Tak lama setelah pertemuan tersebut, hambatan pencairan anggaran akhirnya teratasi dan pembangunan Proyek Asahan kembali berjalan sesuai rencana. Delapan tahun kemudian, tepatnya pada 6 November 1984, Presiden Soeharto meresmikan beroperasinya Proyek Asahan.
Proyek ini kemudian berkembang menjadi fondasi industri aluminium nasional. Setelah kerja sama Indonesia dan Jepang berakhir pada 2013, seluruh kepemilikan proyek resmi berada di tangan pemerintah Indonesia melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), yang kini menjadi bagian dari Holding Industri Pertambangan MIND ID.
Keberhasilan Proyek Asahan tidak hanya memperkuat industri logam nasional, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan pembangunan infrastruktur energi dan hilirisasi sumber daya alam Indonesia. Hingga kini, PLTA Asahan masih menjadi salah satu pemasok energi utama bagi industri peleburan aluminium nasional.
(int)