SURABAYA, PustakaJC.co - Saat itu, sekitar 1935, cita-cita Muhammad Zen Syukri untuk melanjutkan pendidikan agama ke Makkah bersama dua sahabatnya harus pupus. Hasil istikharah sang ayah membuat rencana tersebut dibatalkan. Keputusan itu sempat mengundang cibiran dari warga sekitar, namun tidak memadamkan semangatnya untuk menuntut ilmu.
Berbekal uang hasil menjual sepedanya, Zen Syukri memilih merantau ke Jombang, Jawa Timur, untuk belajar di Pondok Pesantren Tebuireng yang diasuh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Nama pendiri Nahdlatul Ulama itu telah lebih dulu dikenalnya melalui cerita gurunya di Palembang, Sayyid Muhammad bin Salim Al-Kaf. Dilansir dari nu.or.id, Senin, (3/8/2026).
Perjalanan menuju Tebuireng bukanlah perkara mudah. Setelah menempuh perjalanan panjang, ia tiba di Jombang sekitar 1937. Kondisi ekonomi yang terbatas membuatnya tidak mampu membeli seluruh kitab yang menjadi bahan pembelajaran di pesantren. Setiap malam ia meminjam kitab milik teman-temannya, kemudian menyalinnya dengan tangan agar tetap dapat mengikuti pelajaran.
Selama menjadi santri, Zen Syukri juga mengabdikan diri sebagai khadim ndalem, membantu berbagai keperluan di lingkungan pesantren. Kesungguhan, kedisiplinan, dan kerendahan hatinya membuat KH Hasyim Asy’ari memberikan perhatian khusus. Ia bahkan beberapa kali diajak mendampingi sang guru berdakwah ke berbagai daerah di sekitar Jombang.