Kiprah Ulama

Kisah KH Abun Bunyamin Bangun Pesantren Al-Muhajirin, Berawal dari Gagal Jadi Kepala MTs Negeri

tokoh | 06 Juli 2026 15:48

Kisah KH Abun Bunyamin Bangun Pesantren Al-Muhajirin, Berawal dari Gagal Jadi Kepala MTs Negeri
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin sekaligus Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat. (dok nuonline)

PURWAKARTA, PustakaJC.co – Kegagalan menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) pada 1983 justru menjadi titik balik perjalanan hidup Prof. Dr. KH Abun Bunyamin. Dari peristiwa yang sempat dianggap sebagai kegagalan, lahirlah Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang kini berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di Jawa Barat.

 

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin sekaligus Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat, Prof. Dr. KH Abun Bunyamin, mengajak santri dan wali santri untuk meyakini bahwa setiap ketetapan Allah SWT selalu membawa hikmah terbaik. Dilansir dari nu.or.id, Senin, (6/7/2026).

 

Pesan itu disampaikannya saat Wisuda Tahfizh dan Tahsin Al-Qur’an Metode Hijroti di Pondok Pesantren Al-Muhajirin 5 Wanayasa, Purwakarta.

 

KH Abun menceritakan, pada 1983 dirinya telah dipersiapkan menjadi Kepala MTs Negeri. Namun rencana tersebut batal terlaksana. Sebagai gantinya, ia dipercaya memimpin MTs YPMI di Kecamatan Wanayasa.

 

“Awalnya saya akan menjadi Kepala MTs Negeri, tetapi batal. Akhirnya saya menjadi Kepala MTs YPMI pada tahun 1983,” ujar KH Abun.

 

 

Selama sekitar satu dekade mengabdi di MTs YPMI, KH Abun mengaku tidak pernah dimutasi. Bahkan ketika akhirnya mendapat perpindahan tugas pada 1993, mutasi tersebut justru menuju madrasah yang dirintisnya sendiri.

 

Pada 1987, KH Abun mulai membangun MTs Al-Wathan di Sukatani sebagai cikal bakal pengembangan lembaga pendidikan. Setelah itu, ia kembali mendirikan Madrasah Aliyah Salafiyah yang kemudian berkembang menjadi bagian dari Pondok Pesantren Al-Muhajirin.

 

Selain mengembangkan pendidikan, KH Abun juga aktif berdakwah ke berbagai pelosok Kecamatan Wanayasa. Hampir seluruh desa dan kampung didatanginya untuk memberikan ceramah dan pembinaan keagamaan.

 

“Semua desa, semua kampung di Wanayasa saya kunjungi. Saya datang, saya ceramah siang malam,” tuturnya.

 

 

Dari aktivitas dakwah itulah KH Abun bertemu dengan H. Suherman Saleh, seorang tokoh asal Wanayasa yang kemudian menjadi donatur pertama Pesantren Al-Muhajirin.

 

Menurut KH Abun, H. Suherman Saleh memberikan bantuan terbesar pada masa awal pembangunan pesantren dengan membiayai pembelian lahan Kampus 1 Al-Muhajirin di Jalan Veteran.

 

“Beliaulah yang membelikan tanah untuk Kampus 1 Al-Muhajirin yang sekarang,” ungkapnya.

 

Lahan tersebut dibeli seharga sekitar Rp15 juta. Dari jumlah itu, Rp12,5 juta merupakan bantuan H. Suherman Saleh, sedangkan sisanya berasal dari gotong royong masyarakat.

 

Bagi KH Abun Bunyamin, perjalanan hidup tersebut menjadi bukti bahwa rencana Allah SWT selalu menghadirkan jalan terbaik. Kegagalan meraih jabatan yang diinginkan justru mengantarkannya membangun lembaga pendidikan yang kini telah melahirkan banyak santri dan terus berkembang hingga saat ini. (ivan)