Sultan kemudian memberhentikan Syekh Izzuddin dari jabatannya sebagai khatib dan memerintahkan agar ia dipenjara. Meski demikian, ulama besar tersebut tetap mempertahankan prinsipnya dan tidak mencabut fatwa yang telah disampaikannya.
Setelah kondisi pemerintahan mulai tidak stabil akibat kegelisahan masyarakat, Syekh Izzuddin akhirnya dibebaskan dari penjara. Namun, ia tetap dilarang menyampaikan khutbah maupun mengajar.
Merasa ruang dakwahnya semakin sempit, Syekh Izzuddin memutuskan hijrah ke Mesir. Perjalanan itu ditemani oleh ulama mazhab Maliki, Syekh Abu Amr bin al-Hajib.
Kisah Syekh Izzuddin bin Abdissalam menjadi teladan tentang keberanian seorang ulama dalam menyampaikan kebenaran tanpa takut kehilangan kedudukan maupun menghadapi tekanan penguasa. Keteguhannya menunjukkan bahwa membela kepentingan umat dan menjaga prinsip agama sering kali membutuhkan pengorbanan besar. (ivan)