Peran Ulama sebagai Pengawal Moral Kekuasaan

Syekh Izzuddin Rela Dipenjara Demi Membela Umat

tokoh | 14 Juli 2026 12:19

 

 

Namun hubungan tersebut berubah ketika terjadi konflik politik antara penguasa Damaskus dan Sultan as-Shalih Najmuddin Ayyub dari Mesir. Merasa terancam, Sultan as-Shalih Ismail mengambil langkah kontroversial dengan menjalin kerja sama dengan pasukan Salib.

 

Sebagai bagian dari perjanjian itu, beberapa wilayah strategis umat Islam diserahkan kepada pasukan Salib. Mereka juga diberi keleluasaan memasuki Damaskus dan membeli berbagai persenjataan yang nantinya digunakan dalam peperangan melawan kaum muslimin.

 

Kebijakan tersebut memicu kegelisahan masyarakat. Sejumlah pedagang senjata kemudian meminta pandangan Syekh Izzuddin mengenai hukum menjual senjata kepada pasukan Salib.

 

Dengan tegas, Syekh Izzuddin mengeluarkan fatwa haram.

 

Dalam kitab Thabaqatus Syafi’iyyah al-Kubra, Imam Tajuddin as-Subki meriwayatkan fatwa Syekh Izzuddin yang berbunyi:

 

“Haram atas kalian menjual (senjata) kepada mereka, karena kalian mengetahui dengan pasti bahwa mereka membelinya untuk memerangi saudara-saudara kalian, umat Islam.”

 

Selain mengeluarkan fatwa, Syekh Izzuddin juga secara terbuka menyampaikan doa dari atas mimbar agar Allah menghadirkan pemimpin yang menegakkan kebenaran, memuliakan para pembela Islam, dan menjadikan syariat sebagai pedoman kehidupan.

 

Sikap tegas tersebut membuat Sultan as-Shalih Ismail marah. Ia menganggap Syekh Izzuddin sebagai ancaman terhadap kekuasaannya.