Kiprah organisasinya pun terbilang kokoh sejak muda, mulai dari Fatayat NU hingga Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU. Pada kepengurusan PP Muslimat NU periode 2025–2030, beliau menjabat sebagai Dewan Pertimbangan. Nama almarhumah bahkan masih masuk dalam jajaran Mustasyar PBNU Masa Khidmah 2026–2031 yang diumumkan pada akhir September 2026 lalu.
Kolumnis sekaligus keponakan menantu almarhumah, Ubaidillah Sadewa, mengenang almarhumah sebagai sosok pengayom yang memiliki ketajaman batin dan ketenangan raut wajah akibat kedisiplinan riyadhah (tirakat, puasa sunnah, zikir, dan salat malam).
"Pesan sederhana yang terakhir beliau sampaikan saat silaturahim di Kalibata adalah 'Moco Burdahe, ditambahi Bed' (Membaca wirid Burdah dan meningkatkannya). Pesan itu menjadi warisan spiritual mendalam bagi keluarga dan jamaah," ungkap Ubaidillah.
Kepergian Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid menjadi duka mendalam bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama, para santri, serta masyarakat luas. Beliau dinilai berhasil membuktikan bahwa seorang perempuan Muslimah dapat berperan aktif di panggung nasional tanpa menanggalkan akar tradisi, kesederhanaan, dan nilai keagamaan. (ivan)