Keagamaan & Pesantren

Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid Wafat, NU dan Indonesia Kehilangan Sosok Teladan Tiga Pilar

tokoh | 05 Oktober 2026 07:47

Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid Wafat, NU dan Indonesia Kehilangan Sosok Teladan Tiga Pilar
Almarhumah Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid binti KH Abdul Wahab Hasbullah. (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co - Nahdlatul Ulama (NU) dan bangsa Indonesia kembali berduka. Salah satu tokoh senior, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid binti KH Abdul Wahab Hasbullah, mengembuskan napas terakhir pada Ahad, (4/10/2026) malam.

 

Putri dari Pendiri NU dan Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Hasbullah tersebut wafat dengan meninggalkan rekam jejak pengabdian panjang di dunia pesantren, pergerakan perempuan, hingga panggung politik nasional. Dilansir dari nu.or.id, Senin, (5/10/2026).

 

Lahir pada 12 Maret 1944, almarhumah dikenal luas sebagai figur yang menyatukan tiga peran sentral sepanjang hidupnya: pengasuh umat (Bu Nyai), politisi beretika, dan pribadi yang tekun menjalankan ibadah spiritual (ahli riyadhah).

 

 

Dalam ranah politik kebangsaan, almarhumah mencatatkan sejarah kiprah perempuan Nahdliyin dengan menjabat sebagai Anggota DPR RI selama tiga periode, yakni 1987–1992, 1997–1999, dan 2004–2009. Meski berada di tengah ruang publik dan dinamika politik, beliau dinilai konsisten membawa prinsip kesantunan, ketegasan, serta etika keagamaan.

 

 

Kiprah organisasinya pun terbilang kokoh sejak muda, mulai dari Fatayat NU hingga Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU. Pada kepengurusan PP Muslimat NU periode 2025–2030, beliau menjabat sebagai Dewan Pertimbangan. Nama almarhumah bahkan masih masuk dalam jajaran Mustasyar PBNU Masa Khidmah 2026–2031 yang diumumkan pada akhir September 2026 lalu.

 

Kolumnis sekaligus keponakan menantu almarhumah, Ubaidillah Sadewa, mengenang almarhumah sebagai sosok pengayom yang memiliki ketajaman batin dan ketenangan raut wajah akibat kedisiplinan riyadhah (tirakat, puasa sunnah, zikir, dan salat malam).

 

"Pesan sederhana yang terakhir beliau sampaikan saat silaturahim di Kalibata adalah 'Moco Burdahe, ditambahi Bed' (Membaca wirid Burdah dan meningkatkannya). Pesan itu menjadi warisan spiritual mendalam bagi keluarga dan jamaah," ungkap Ubaidillah.

 

 

Kepergian Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid menjadi duka mendalam bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama, para santri, serta masyarakat luas. Beliau dinilai berhasil membuktikan bahwa seorang perempuan Muslimah dapat berperan aktif di panggung nasional tanpa menanggalkan akar tradisi, kesederhanaan, dan nilai keagamaan. (ivan)