SURABAYA, PustakaJC.co - Dalam diskursus hermeneutika Islam modern, Al-Qur'an kerap diposisikan sebatas objek kajian teologis maupun filologis. Namun, intelektual Muslim asal Afrika Selatan, Farid Esack, mendobrak pola pikir tersebut dengan menghadirkan teologi pembebasan—membaca kitab suci sebagai pedoman etis yang secara aktif melawan ketidakadilan struktural dan menggalang solidaritas lintas iman.
Lahir di Cape Town pada 1959, akar pemikiran pembebasan Esack tumbuh langsung dari pahitnya realitas kehidupan di bawah rezim apartheid. Dibesarkan di kawasan Bonteheuwel akibat penggusuran paksa lewat Group Areas Act 1952, Esack menyaksikan perjuangan ibunya yang berjuang di bawah triple oppression: sistem apartheid, tatanan patriarki, dan tekanan kapitalisme. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (19/9/2026).
Pengalaman berbaur dengan tetangga lintas agama di tengah penindasan yang sama membentuk pemikirannya sejak dini. Esack mempertanyakan klaim eksklusivisme keselamatan beragama tatkala melihat nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas justru ditunjukkan oleh pemeluk agama lain, seperti tetangga Kristen, penganut Bahá’í, hingga warga Yahudi.