Pluralisme & Solidaritas Lintas Iman

Teologi Pembebasan Farid Esack, Menjadikan Al-Qur’an Alat Perlawanan Terhadap Penindasan

tokoh | 19 September 2026 18:02

 

Ia menegaskan bahwa penafsiran Al-Qur'an merupakan produk historis yang tidak bisa dilepaskan dari konteks subjektivitas penafsirnya. Karena itu, umat Islam dipanggil untuk tidak terpaku pada penafsiran masa lalu, melainkan terus berinteraksi secara kreatif dengan perubahan zaman.

 

Terkait isu pluralisme, Esack melangkah lebih jauh dari sekadar sikap toleransi pasif. Ia mendefinisikan pluralisme sebagai pengakuan dan penerimaan tulus atas keragaman dalam upaya manusia menggapai Yang Transenden.

Pemikiran Esack tak pelak memicu perdebatan sengit di dunia Islam.

 

Sebagian sarjana memuji langkahnya sebagai terobosan hermeneutika kontekstual yang berpihak pada keadilan, sementara kelompok konservatif mengritiknya terlalu liberal dan berisiko mengaburkan akidah.

 

Meski demikian, kontribusi Esack tetap menjadi pilar penting dalam teologi pembebasan Islam kontemporer—menegaskan bahwa teks suci harus selalu berpihak pada kaum yang tertindas. (ivan)