Pluralisme & Solidaritas Lintas Iman

Teologi Pembebasan Farid Esack, Menjadikan Al-Qur’an Alat Perlawanan Terhadap Penindasan

tokoh | 19 September 2026 18:02

 

Perjalanan intelektual dan diplomasinya tercatat cukup dramatis:

 

  • Pengalaman Belajar & Aktivisme: Sempat menjadi bagian dari Jamaah Tabligh di usia muda hingga memimpin madrasah lokal, Esack ditahan pada 1974 akibat keterlibatannya dalam gerakan politik kepemudaan menentang apartheid.
  • Penggemblengan Teologi: Usai penahanan, ia mendalami teologi Islam dan sosiologi di Pakistan selama delapan tahun, sebelum akhirnya meraih gelar Ph.D dari University of Birmingham pada 1996. Disertasinya yang legendaris kemudian dibukukan dengan judul Qur’an, Liberation and Pluralism.
  • Gerakan 'Call of Islam': Sekembalinya dari Pakistan pada 1984, ia mendirikan Call of Islambersama rekan-rekannya di University of Western Cape. Wadah ini menjadi jangkar perlawanan lintas agama yang menyatukan pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi melawan rezim rasis apartheid.

 

Dipengaruhi oleh pemikir kontemporer seperti Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abu Zaid, Hasan Hanafi, dan M. Arkoun, Esack memformulasikan gagasan Al-Qur'an sebagai wahyu progresif.

 

Bagi Esack, proses penurunan wahyu secara bertahap (tadrij) selama 23 tahun mencerminkan interaksi aktif antara kehendak Tuhan dan dinamika sosial.