SURABAYA, PustakaJC.co – Syekh Izzuddin bin Abdissalam dikenal sebagai salah satu ulama besar mazhab Syafi’i yang memiliki keberanian luar biasa dalam menyampaikan kebenaran. Keteguhannya membela kepentingan umat membuatnya rela kehilangan jabatan, dipenjara, hingga meninggalkan tanah kelahirannya.
Ulama kelahiran Damaskus pada tahun 577 Hijriyah itu mendapat julukan Sulthanul Ulama atau rajanya para ulama. Ia menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari fiqih, tafsir, hadits hingga politik Islam. Salah satu karya monumentalnya adalah Qawa’idul Ahkam fi Mashalihil Anam yang hingga kini masih dipelajari di berbagai lembaga pendidikan Islam. Dilansir dari nu.or.id, Selasa, (14/7/2026).
Syekh Izzuddin hidup pada masa dunia Islam menghadapi Perang Salib. Situasi politik yang penuh gejolak membentuk dirinya menjadi ulama yang tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga aktif mengawal kepentingan umat.
Salah satu peristiwa penting dalam hidupnya terjadi pada masa pemerintahan Sultan as-Shalih Ismail di Damaskus. Awalnya, hubungan keduanya berlangsung baik. Sultan bahkan mengangkat Syekh Izzuddin sebagai khatib di salah satu masjid jami’ karena keluasan ilmunya.