Surabaya, PustakaJC.co - Suku Dayak dikenal luas sebagai penduduk asli Pulau Kalimantan. Namun, asal-usul mereka masih menjadi misteri yang menarik perhatian banyak pihak, termasuk para peneliti sejarah dan antropologi.
Nama "Dayak" sebenarnya bukan berasal dari mereka sendiri. Istilah ini diberikan oleh pendatang untuk merujuk pada masyarakat pedalaman Kalimantan yang tidak menganut agama Islam. Suku Dayak sendiri terdiri dari ratusan sub-suku dengan bahasa, budaya, dan tradisi yang berbeda-beda, namun memiliki kesamaan dalam sistem kepercayaan dan pola hidup yang menyatu dengan alam.
Penelitian menunjukkan bahwa nenek moyang suku Dayak berasal dari migrasi manusia purba yang datang dari wilayah Asia daratan dan Taiwan sekitar 4.000 tahun yang lalu. Mereka kemudian menetap di pedalaman Kalimantan, hidup dari bertani, berburu, dan meramu, serta membentuk komunitas-komunitas mandiri.
Salah satu kerajaan kuno yang diyakini dibangun oleh leluhur Dayak adalah Kerajaan Nan Sarunai, yang terletak di wilayah Kalimantan Selatan. Kerajaan ini konon pernah dihancurkan oleh pasukan Majapahit, sebagaimana tercatat dalam tradisi lisan yang dikenal dengan istilah “Nan Sarunai Usak Jawa”.
Hingga kini, Suku Dayak masih menjaga banyak tradisi leluhur. Salah satunya adalah upacara Tiwah, sebuah ritual penghormatan kepada arwah leluhur. Selain itu, mereka dikenal dengan rumah adat betang (rumah panjang), senjata khas mandau, serta seni tato dan telinga panjang yang memiliki makna spiritual dan identitas suku.
Seiring perkembangan zaman, sebagian masyarakat Dayak telah mengalami akulturasi budaya dan berpindah agama, seperti Islam dan Kristen. Namun demikian, identitas dan kebudayaan Dayak tetap menjadi warisan penting dalam khazanah budaya Indonesia.
Suku Dayak bukan hanya simbol masyarakat pedalaman, tetapi juga penjaga hutan Kalimantan yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal tinggi dalam menjaga alam dan lingkungan hidup. (nov)