Wisatawan Rusia Kagumi Kemegahan Kerapan Sapi Piala Presiden di Madura

wisata | 21 Oktober 2025 05:19

Wisatawan Rusia Kagumi Kemegahan Kerapan Sapi Piala Presiden di Madura
Alex, Wisatawan Asal Rusia usia Menonton Kerapan Sapi Piala Presiden. (dok bhirawa)

BANGKALAN, PustakaJC.co – Ajang Kerapan Sapi Piala Presiden 2025 di Stadion R.P. Moh. Noer, Bangkalan, Minggu, (19/10/2025), menjadi magnet budaya yang memikat wisatawan dari dalam dan luar negeri. Salah satunya, Alex, warga Rusia yang bertugas di Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, datang khusus untuk menyaksikan tradisi kebanggaan masyarakat Madura itu.

 

 

“Acara ini sangat luar biasa. Saya sangat menikmati suasananya dan menghargai kekuatan serta semangat para peserta. Budaya seperti ini harus terus dilestarikan,” ujar Alex usai menonton perlombaan. Dikutip dari bhirawaonline.co.id, Selasa, (21/10/2025).

 

Kemeriahan grand final kali ini diikuti 24 pasang sapi terbaik dari empat kabupaten di Madura. Dentuman musik saronen dan sorak penonton menambah semarak suasana di tribun penonton yang penuh sesak.

 

 

Kepala Bakorwil IV Pamekasan, Sufi Agustini, menjelaskan bahwa ajang ini bukan hanya perlombaan, tetapi juga bagian dari peringatan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur.

 

 

“Kerapan sapi adalah warisan budaya luhur yang memperlihatkan kekompakan, sportivitas, dan semangat masyarakat Madura,” ujarnya.

 

Sementara Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, menegaskan, karapan sapi merupakan identitas kultural dan simbol kebanggaan masyarakat Madura.

 

 

“Selain menjadi tontonan menarik, ajang ini punya efek berlapis — menggerakkan sektor pariwisata, ekonomi, hingga kebanggaan daerah,” tegasnya.

 

 

 

Acara yang digelar sejak pagi itu dihadiri ribuan penonton, mulai dari masyarakat lokal, pejabat daerah, hingga wisatawan asing. Pemerintah Kabupaten Bangkalan juga menyiapkan stan kuliner khas Madura seperti sate lalat, nasi serpang, dan topa’ ladhe untuk memanjakan pengunjung.

 

 

Antusiasme warga dan wisatawan membuktikan bahwa Kerapan Sapi bukan sekadar tradisi lomba, tapi perayaan budaya yang menyatukan masyarakat lintas daerah dan bangsa.

 

Madura kembali menegaskan posisinya sebagai ikon budaya Jawa Timur yang berkelas dunia, di mana keringat sapi, semangat joki, dan sorak penonton berpadu menjadi energi kebanggaan yang tak lekang oleh waktu. (ivan)