SURABAYA, PustakaJC.co – Inisiatif warga Kelurahan Banjar Sugihan, Kecamatan Tandes, Surabaya, sukses mengubah kawasan kumuh menjadi destinasi wisata tematik bernama Kampung Jepang Surabaya. Kawasan ini tumbuh tanpa bantuan dana pemerintah maupun CSR, murni dari kemandirian warga.
Perintis Kampung Jepang Surabaya, Komang, mengatakan gagasan tersebut bermula dari keikutsertaan warga dalam lomba lingkungan dan kampung tematik. Tantangan terberat bukan soal dana, melainkan mengubah pola pikir warga agar peduli dan mau menata lingkungannya secara berkelanjutan. Dilansir dari detik.com, Selasa, (13/1/2026).
“Banyak yang mengira ini hasil CSR atau bantuan pemerintah. Padahal semua murni dari warga. Modal awal kami dari hadiah lomba yang kemudian diputar untuk pengembangan,” ujar Komang.
Untuk menghindari kecemburuan sosial, satu RW dikembangkan menjadi beberapa kampung tematik yang dikelola masing-masing RT. Dari sinilah lahir Wethan Wonderland, payung berbagai kampung wisata di kawasan tersebut. Kampung Jepang dikelola oleh 14 warga RT 5 secara mandiri.
Wisata ini tidak memungut tiket masuk dan dibuka setiap hari pukul 07.00–16.00 WIB. Sumber pendapatan utama berasal dari penyewaan kostum Jepang seharga Rp25 ribu per set, dengan omzet bulanan mencapai sekitar Rp6 juta. Pengelolaan keuangan dilakukan secara transparan dan hasilnya dibagi untuk pengelola, kas pengembangan, serta kas RT.
Menariknya, lebih dari 85 persen properti kampung dibuat dari barang bekas, termasuk taman yang sebelumnya merupakan tempat pembuangan sampah. Keberadaan kampung wisata ini juga membuka lapangan kerja warga, mulai dari pengelola, UMKM, parkir, hingga spot foto.
Meski mengusung tema Jepang, Komang menegaskan tujuan utamanya adalah membangun kampung mandiri berbasis kualitas warga dan kearifan lokal. Tema Jepang dipilih sebagai daya tarik agar mudah dikenal publik.
Kini, Kampung Jepang Surabaya telah terdaftar di Dinas Pariwisata Kota Surabaya sebagai salah satu kampung tematik rekomendasi. Warga berharap kawasan ini bisa menjadi contoh bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari inisiatif masyarakat sendiri. (ivan)