SURABAYA, PustakaJC.co — Kondisi Kali Tebu di kawasan Kenjeran, Surabaya, kembali menjadi sorotan menjelang peringatan Hari Bumi. Hasil pemantauan terbaru dari LSM Ecoton mengungkap dominasi sampah plastik di aliran sungai tersebut, yang tidak hanya mencemari secara kasat mata, tetapi juga menyimpan ancaman mikroplastik bagi kesehatan manusia, Rabu (22/4/2026).
Koordinator Brand Audit Ecoton, Alaika Rahmatullah, menyebutkan pihaknya menemukan sedikitnya 679 potongan sampah plastik dari berbagai merek produk konsumsi harian. Temuan ini menegaskan masih lemahnya tanggung jawab produsen dalam mengelola limbah kemasan.
“Produsen memiliki kewajiban atas sampah yang dihasilkan dari produk dan kemasan mereka. Melalui brand audit ini, kami menuntut tanggung jawab tersebut karena secara hukum produsen wajib mengelola sampah plastiknya,” ujar Alaika, dikutip dari surabaya.jawapos.com.
Ia menambahkan, kondisi tersebut bertentangan dengan regulasi yang berlaku, khususnya Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 yang mengatur standar kualitas air sungai harus bebas dari sampah.
“Jika sampah bermerek masih memenuhi Kali Tebu, artinya ada aturan hukum yang sedang dilanggar,” tegasnya.
Selain sampah yang terlihat, penelitian Ecoton juga menemukan adanya kontaminasi mikroplastik dalam jumlah signifikan. Dari lima titik pemantauan, tercatat akumulasi mencapai 410 partikel mikroplastik per 100 liter air.
Lokasi dengan tingkat pencemaran tertinggi berada di Hilir Tambak, Kelurahan Tambak Wedi, dengan 123 partikel per 100 liter air. Disusul kawasan Taman Toga, Kelurahan Tanah Kali Kedinding, yang mencapai 107 partikel per 100 liter.
Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini, menjelaskan bahwa mikroplastik yang ditemukan terdiri dari berbagai jenis seperti fiber, fragmen, pellet, film, dan foam, yang mayoritas berasal dari aktivitas rumah tangga.
“Temuan mikroplastik di lima titik pemantauan ini menjadi peringatan bahwa Kali Tebu memerlukan perhatian bersama agar dampak pencemaran terhadap ekosistem dan kesehatan masyarakat dapat segera ditangani,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, mengingatkan bahwa mikroplastik memiliki risiko serius karena dapat masuk ke rantai makanan melalui ikan dan organisme air lainnya.
“Dalam jangka panjang, mikroplastik dapat terakumulasi dalam tubuh manusia,” paparnya.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat untuk segera mengambil langkah konkret dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta memperkuat sistem pengelolaan limbah.
Momentum peringatan Hari Bumi diharapkan tidak hanya menjadi seremonial, tetapi juga mendorong aksi nyata untuk menjaga kualitas lingkungan, khususnya perairan sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir. (frchn)