SURABAYA, PustakaJC.co – Jika Madura terkenal dengan karapan sapi, maka Kabupaten Lumajang punya tradisi tak kalah menarik: karapan kambing. Tradisi unik ini kembali digelar dan sukses menyedot perhatian masyarakat di Lapangan Desa Bago, Kecamatan Pasirian, Lumajang.
Sebanyak 220 ekor kambing dari Lumajang dan Probolinggo ambil bagian dalam perlombaan yang sarat hiburan rakyat tersebut. Dengan lintasan sepanjang 150 meter, kambing-kambing dipacu berlari cepat menuju garis finis setelah wasit mengibarkan bendera tanda mulai lomba. Suasana pun riuh oleh sorak penonton yang memadati area pertandingan.
Tradisi ini bukan sekadar ajang lomba biasa. Karapan kambing menjadi sarana mempererat silaturahmi antarpeternak kambing dari berbagai daerah sekaligus menjaga budaya lokal agar tetap hidup di tengah modernisasi. Panitia menyebut kegiatan ini terus diminati karena menjadi wadah kebersamaan para pecinta ternak kambing.
Menariknya, para peserta juga menyiapkan kambing andalannya dengan perawatan khusus. Beberapa peternak rutin melatih kambing berlari setiap pekan, bahkan memberi ramuan herbal seperti telur, kunyit, dan madu agar stamina hewan tetap prima saat berlomba.
Bagi masyarakat sekitar, karapan kambing menjadi hiburan yang dinanti. Anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias menyaksikan aksi kambing berlari di arena. Tradisi ini menunjukkan bahwa budaya desa masih memiliki daya tarik besar bila dikemas meriah dan melibatkan warga secara langsung.
Selain trofi penghargaan, para pemenang juga mendapatkan hadiah uang tunai jutaan rupiah. Namun lebih dari itu, kemenangan sejati ada pada tetap lestarinya tradisi khas Lumajang yang mampu menyatukan masyarakat melalui cara sederhana namun penuh kegembiraan.
Di tengah derasnya hiburan modern, karapan kambing menjadi bukti bahwa kearifan lokal tetap punya tempat di hati warga Jawa Timur. (int)