SURABAYA, PustakaJC.co – Budaya menonton film di Surabaya ternyata telah berkembang sejak awal abad ke-20, jauh sebelum bioskop modern hadir di pusat-pusat perbelanjaan. Perkembangan tersebut sejalan dengan pesatnya aktivitas industri dan perdagangan di Kota Pahlawan yang saat itu menjadi salah satu pusat ekonomi terbesar di kawasan timur Pulau Jawa. Jumat, (8/5/2026).
Pegiat sejarah, Nur Setiawan, menjelaskan meningkatnya aktivitas industri membuat Surabaya dipadati pendatang dari berbagai daerah maupun negara, termasuk warga Eropa dan Tionghoa yang datang untuk bekerja serta menjalankan usaha.
“Karena Surabaya menjadi kota yang sangat sibuk, kebutuhan hiburan bagi para pekerja juga ikut meningkat. Dari situlah bioskop mulai hadir sebagai alternatif hiburan,” ujarnya. Demikian dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Jumat (8/5/2026).
Pada masa awal kemunculannya, bioskop di Surabaya masih menayangkan film bisu tanpa dialog maupun suara. Penonton hanya menikmati adegan para pemain yang bergerak di layar lebar.
Meski demikian, suasana pertunjukan tetap dibuat menarik melalui iringan musik yang dimainkan secara langsung sebelum maupun sesudah pemutaran film.
“Agar tidak terasa kaku, biasanya ada pengiring musik yang dimainkan sebelum atau sesudah film diputar,” terang Nur.
Salah satu bioskop yang tercatat dalam sejarah perfilman Surabaya adalah Oost Java Bioskoop. Lokasinya berada tidak jauh dari gedung Raad van Justitie yang kini dikenal sebagai kawasan Tugu Pahlawan.
Nama Oost Java Bioskoop memiliki arti “bioskop di Jawa Timur” dan menjadi simbol hiburan modern pada masanya. Bangunan bekas bioskop tersebut bahkan disebut masih berdiri hingga sekitar tahun 1970-an, meski pengelolaannya sudah beralih ke masyarakat pribumi.
Selain Oost Java Bioskoop, terdapat pula Bioskop Luxor yang diyakini menjadi bagian dari jaringan bioskop awal milik pelopor hiburan layar lebar di Jawa Timur, Charles Jacob.
Perkembangan teknologi kemudian mengubah wajah industri perfilman di Surabaya. Dari era film bisu dengan iringan musik langsung, kini masyarakat dapat menikmati tayangan dengan kualitas audio dan visual yang semakin canggih.
Jejak sejarah bioskop tempo dulu tersebut menjadi bukti bahwa budaya menonton film telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Surabaya, mengikuti perkembangan kota yang terus bergerak maju. (frchn)