Grebeg Suro 2026 juga berhasil menarik perhatian wisatawan mancanegara. Berdasarkan catatan IPPO, sedikitnya 35 wisatawan asing hadir untuk menyaksikan berbagai rangkaian acara budaya yang menjadi ciri khas Ponorogo.
Wisatawan tersebut berasal dari berbagai negara, di antaranya Prancis sebanyak 12 orang, Jepang 10 orang, Singapura 5 orang, serta wisatawan dari India dan sejumlah negara lainnya.
“Ini bukti bahwa budaya dan tradisi di Ponorogo memiliki daya tarik yang mampu menembus pasar wisata internasional,” kata Erfan.
Selain mengandalkan agenda Grebeg Suro, IPPO juga mulai mengembangkan berbagai paket wisata unggulan yang menghubungkan sejumlah destinasi di Ponorogo, mulai dari wisata sejarah, wisata religi, hingga wisata alam seperti JecoTrip ke Bukit Kuik di Desa Bedingin, Kecamatan Sambit.
Tak hanya itu, wisata berbasis pengalaman seperti petualangan offroad juga mulai dikembangkan untuk menjangkau segmen wisatawan pecinta aktivitas luar ruang.
Dalam waktu dekat, IPPO berencana mengundang sejumlah biro perjalanan dari luar daerah guna memperkenalkan berbagai potensi wisata Ponorogo yang dinilai memiliki nilai jual tinggi, baik dari sisi budaya, alam, maupun ekonomi kreatif.
“Semakin banyak wisatawan yang datang, maka semakin besar pula dampak ekonomi bagi masyarakat. Harapan kami, pariwisata Ponorogo bisa menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah,” pungkasnya. (nov)