Pada Maret 1949, wilayah Cangkringan menjadi salah satu lokasi pertempuran antara rakyat Indonesia dan pasukan Belanda. Dalam operasi militer tersebut, sejumlah rumah warga dibakar dan beberapa tokoh masyarakat ditangkap.
Kepala Desa Argomulyo, Suharjo, bersama Carik Desa Sukarman menjadi korban penangkapan dan gugur dalam peristiwa tersebut. Selain itu, pejuang Laskar Rakyat bernama Wanayik atau Sayid Barnadian juga dilaporkan gugur saat mempertahankan wilayahnya.
Meski memiliki keterbatasan persenjataan, masyarakat bersama para pejuang terus melakukan perlawanan hingga akhirnya pasukan Belanda mundur ke arah Kaliurang. Jejak sejarah itu masih dapat ditemukan melalui sisa-sisa gua yang dahulu digunakan sebagai tempat persembunyian warga saat perang berlangsung.