Sementara itu, akademisi pariwisata Dr. A. Faidlal Rahman menyebut tren industri pariwisata saat ini telah mengalami perubahan. Wisatawan kini tidak hanya mencari tempat yang menarik secara visual, tetapi juga pengalaman yang berkesan selama berkunjung.
Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting sebagai tuan rumah yang menentukan kualitas suatu destinasi wisata. Oleh sebab itu, pelayanan yang baik, kebersihan lingkungan, keamanan, dan kenyamanan harus menjadi perhatian bersama.
“Kualitas pelayanan menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Fasilitas pendukung, keamanan, kenyamanan, hingga pelayanan yang ramah akan menentukan kepuasan wisatawan. Ketika wisatawan memperoleh pengalaman yang baik, mereka tidak hanya ingin kembali, tetapi juga akan menceritakan pengalaman tersebut kepada orang lain,” jelasnya.
Ia menambahkan, inovasi juga perlu terus dilakukan agar destinasi wisata mampu mengikuti perkembangan tren tanpa meninggalkan identitas dan karakter lokal yang menjadi daya tarik utama.
Melalui forum tersebut, para peserta sepakat pentingnya memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri kreatif, komunitas, dan masyarakat dalam mengembangkan pariwisata berbasis potensi lokal.
Dengan sinergi yang kuat, Kota Batu diharapkan tidak hanya mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur, tetapi juga mampu menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat melalui pengembangan wisata desa dan UMKM. (ivan)