Terkait estimasi dampak ekonomi, Kemenpar mengaku masih melakukan pendataan intensif bersama pemda dan asosiasi industri. Pendataan mencakup penurunan tingkat hunian (okupansi) hotel, gangguan operasional objek wisata, hingga potensi kerusakan fisik infrastruktur pariwisata. Data tersebut nantinya dijadikan acuan utama untuk merumuskan program pemulihan (recovery) pascabencana.
Mengingat Indonesia memiliki 127 gunung api aktif dan menjadi salah satu destinasi utama wisata minat khusus (hiking), Kemenpar menegaskan komitmennya untuk memperketat standar keselamatan melalui tiga pilar utama:
- Pembatasan Kuota & Informasi Real-Time: Penentuan batas kuota harian pengunjung destinasi gunung api yang terintegrasi langsung dengan status vulkanik terkini dari PVMBG/ESDM.
- Infrastruktur Mitigasi Fisik: Kewajiban penyediaan dan perawatan jalur evakuasi, titik kumpul (assembly point), rambu Early Warning System (EWS) yang mudah dipahami wisatawan domestik maupun mancanegara, serta pos pemantauan keselamatan.
- Peningkatan Kapasitas SDM: Pelaksanaan Program Pelatihan Peningkatan Keselamatan Wisata di 38 provinsi oleh Kedeputian Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan guna menggembleng kesiapsiagaan pelaku pariwisata dalam merespons kondisi darurat.
Masyarakat dan wisatawan yang membutuhkan informasi terkini mengenai kondisi keselamatan destinasi serta status aktivitas Gunung Anak Krakatau diimbau untuk memantau kanal resmi Kementerian Pariwisata, BNPB, serta PVMBG. Pemerintah memastikan koordinasi intensif akan terus dilakukan hingga situasi kembali kondusif dan aktivitas pariwisata di kawasan terdampak dapat beroperasi secara normal kembali. (ivan)