Ke Mana Perginya Ratusan Juta Kerikil Jumrah? Ini Jawaban Kementerian Haji Arab Saudi

bumi pesantren | 09 Juni 2025 11:34

Ke Mana Perginya Ratusan Juta Kerikil Jumrah? Ini Jawaban Kementerian Haji Arab Saudi
Jamaah haji sedang melempar jumrah di Jamarat, Mina, Arab Saudi. (dok nuonline)

MINA, PustakaJC.co - Setiap musim haji, jutaan jamaah melempar jumrah sebagai bagian dari ibadah. Tapi, pernahkah kita bertanya: ke mana perginya kerikil-kerikil itu setelah dilempar? Ternyata, jawabannya mengejutkan dan membanggakan sistemnya canggih, bersih, dan ramah lingkungan.

Ritual melempar jumrah menjadi salah satu prosesi paling ikonik dalam ibadah haji. Dari tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah, jutaan jamaah dari seluruh dunia melemparkan masing-masing 7 kerikil ke tiga titik jumrah: ula, wustha, dan aqabah, di kawasan Jamarat, Mina. Dilansir dari nu.or.id, Senin, (9/6/2025).

Menurut data resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, jumlah total jamaah haji tahun 2025 mencapai 1.673.230 orang. Rinciannya, 1.506.576 jamaah dari luar Arab Saudi dan 166.654 jamaah dari dalam negeri.

Bila seluruh jamaah mengambil skema nafar awal (3 hari), maka akan terkumpul 81.988.270 kerikil. Jika seluruhnya mengambil nafar tsani (4 hari), jumlahnya naik menjadi 117.125.100 kerikil.

Ternyata, kerikil yang dilempar jamaah langsung jatuh ke ruang bawah tanah sedalam 15 meter di bawah setiap pilar jumrah. Dari situ, kerikil disaring, dicuci, disterilkan, dan disemprot disinfektan untuk menjaga kebersihan maksimal.

 

“Kerikil yang telah dibersihkan dikumpulkan dalam karung dan disimpan untuk didistribusikan kembali pada musim haji berikutnya,” tulis Arab News. Sebanyak lebih dari 80.000 karung kerikil disebar di 300 titik sepanjang rute Muzdalifah ke Jamarat setiap tahunnya.

Sistem ini dikenal sebagai waste to resource, yakni pengolahan ulang bahan sisa agar dapat digunakan kembali. Ini menjadi bukti bahwa manajemen haji di Arab Saudi bukan hanya efisien, tetapi juga ramah lingkungan.

Dari sebuah ibadah sederhana seperti melempar kerikil, kita belajar bahwa kebersihan, efisiensi, dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan. Sebuah teladan spiritual sekaligus ekologis yang layak diapresiasi oleh dunia. (ivan)