JAKARTA, PustakaJC.co - Perpustakaan masjid tak lagi sekadar rak-rak buku. Kementerian Agama sedang merumuskan pedoman baru agar masjid menjadi pusat literasi keagamaan yang ramah bagi semua kalangan, termasuk anak-anak, perempuan, disabilitas, hingga lansia.
Kementerian Agama (Kemenag) tengah menyusun Pedoman Pelaksanaan Perpustakaan Masjid untuk memperluas akses literasi keagamaan secara inklusif. Pedoman ini dibahas dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar di Jakarta pada Selasa, (17/6/2025), dan akan dituangkan dalam Keputusan Direktur Jenderal (Kepdirjen) Bimbingan Masyarakat Islam. Dilansir dari kemenag.go.id, Jumat, (20/6/2025).
Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Arsad Hidayat, menyatakan bahwa perpustakaan masjid harus menjadi bagian aktif dari gerakan literasi nasional.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga episentrum pembelajaran. Maka perpustakaannya pun harus ramah dan mudah diakses siapa saja,” ujar Arsad.
Lebih dari itu, perpustakaan masjid ditargetkan menjadi ruang rekreasi intelektual sekaligus zona nyaman yang terbuka untuk semua kelompok masyarakat.
“Penting bagi setiap masjid untuk tidak hanya membangun rak-rak buku, tetapi juga membangun kesadaran baru bahwa belajar agama adalah hak semua warga, tanpa memandang latar belakang sosial, pendidikan, atau kemampuan fisik,” tegasnya.
Pedoman ini akan memuat standar layanan, pelibatan masyarakat, penguatan literasi digital, serta akses inklusif untuk kelompok rentan. Penyusunannya merujuk pada Permenag No. 42 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kemenag, sebagai landasan agar perpustakaan masjid dikelola secara profesional dan menjadi bagian dari sistem pendidikan informal umat.
Kemenag juga menyelaraskan pedoman ini dengan arah pembangunan ruang keagamaan yang inklusif dan berlandaskan semangat moderasi beragama.
Melalui pedoman ini, masjid diharapkan menjadi rumah besar pengetahuan yang ramah, setara, dan menyentuh semua hati. Inisiatif ini bukan hanya soal buku, tapi tentang membangun masyarakat yang tercerahkan dan saling memahami lewat literasi yang bermartabat. (ivan)