JAKARTA, PustakaJC.co - Hijrah bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi ajakan untuk mentransformasi diri secara spiritual, intelektual, dan sosial. Pesan ini ditegaskan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam Peringatan 1 Muharam 1447 Hijriah Tingkat Kenegaraan di Masjid Istiqlal, Kamis, (26/6/2025) malam.
“Bagaimana kita menghayati apa hikmah di balik hijrahnya Rasulullah SAW? Ada hijrah fisik, hijrah intelektual, spiritual, hijrah dari segi waktu, hijrah dari prestasi,” ujar Menag, mengajak umat Islam menjadikan tahun baru Islam sebagai refleksi untuk memperbaiki diri dan lingkungan. Dikutip dari kemenag.go.id, Sabtu, (28/6/2025).
Menurutnya, hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi titik awal lahirnya peradaban yang memuliakan ilmu, keadilan, dan akhlak.
“Apa artinya kita memperingati Muharam kalau terjadi penurunan degradasi kualitas individu,” tegas Menag.
Ia menjelaskan, pemilihan peristiwa hijrah sebagai dasar penanggalan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab adalah simbol pentingnya perubahan menuju kemajuan. Usulan Sayyidina Ali untuk menjadikan hijrah sebagai awal kalender disetujui seluruh sahabat, menandakan besarnya nilai historis dan spiritual peristiwa itu.
Menag juga menyinggung pentingnya menjaga semangat hijrah di era modern. Ia menggambarkan semangat itu sebagai proses berkelanjutan untuk menjadi lebih baik.
“Kalau ada di antara kita diberikan umur panjang oleh Allah, bisa hidup pada tahun 2.526 Masehi, maka itu juga akan bertepatan dengan 2.526 Hijriah,” tutur Nasaruddin.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menambahkan, hijrah adalah proses meninggalkan segala bentuk keburukan menuju akhlak yang lebih baik.
“Hijrah berarti meninggalkan perbuatan-perbuatan tercela menuju kepada perbuatan dan akhlak yang mulia,” jelasnya.
Ia menyoroti pentingnya dimensi sosial dari hijrah, termasuk dalam menjaga keadilan dan menjauhi praktik korupsi.
“Saya mengutip dari Muhammad Asad dalam The Message of the Qur’an, ia menerjemahkan laa tufsidu fil ardi dengan terjemahan ‘jangan berbuat korupsi di muka bumi’,” pungkas Mu’ti.
Peringatan 1 Muharam 1447 H yang digelar Kementerian Agama mengusung tema Peaceful Muharam 1447 H. Acara ini dihadiri para Menteri dan Wakil Menteri Kabinet Merah Putih, duta besar negara sahabat, tokoh ormas Islam, pejabat Kemenag, dan masyarakat umum.
Semangat hijrah menjadi ajakan universal untuk memperkuat bangsa melalui perubahan yang damai, bermakna, dan berkelanjutan. Dari perubahan pribadi menuju kemajuan kolektif, hijrah adalah jalan menuju Indonesia yang lebih bermartabat. (ivan)