Sistem ini juga memiliki pola yang menarik. Ada bulan kembar seperti dua Rabi’ dan dua Jumada, serta bulan dengan awalan “Dzu” seperti Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Pola ini menunjukkan bahwa kalender Arab Jahiliah disusun dengan keteraturan berdasarkan musim dan siklus hidup masyarakat saat itu.
Jika dibandingkan dengan kalender Babilonia, Siria, atau Ibrani yang juga berakar dari budaya Semitik, kalender Arab dari wilayah Hijaz tampak berkembang secara mandiri. Sederhana, tapi khas.
Kini, kalender Hijriah bukan hanya sistem penanggalan Islam. Ia adalah lanjutan dari sistem lama yang dimaknai ulang. Setiap penyebutan nama bulan dalam Islam membawa serta jejak budaya ribuan tahun yang telah ditransformasikan menjadi nilai-nilai spiritual. (ivan)