NU Perkuat Konsolidasi untuk Hadapi Perubahan Zaman Versi Gus Yahya

bumi pesantren | 02 Juli 2025 05:24

NU Perkuat Konsolidasi untuk Hadapi Perubahan Zaman Versi Gus Yahya
Ketum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf. (dok nuonline)

JAKARTA, PustakaJC.co - Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan pentingnya konsolidasi tata kelola, sumber daya, dan agenda organisasi sebagai strategi NU dalam menghadapi perubahan zaman yang cepat dan tidak menentu.

Dalam acara pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatra Selatan yang digelar di Griya Agung, Palembang, Selasa, (1/7/2025), Gus Yahya menyampaikan bahwa konsolidasi bukan untuk menolak perubahan, tetapi justru untuk bisa menyesuaikan diri secara cepat dan tepat. Dilansir dari nu.or.id, Rabu, (2/7/2025).

“Bukan siapa yang paling kuat atau paling pintar yang akan bertahan. Tapi siapa yang paling cepat menyesuaikan diri,” ujar Gus Yahya di hadapan jajaran PWNU, PCNU, dan Banom se-Sumsel.

Ia menambahkan bahwa perubahan adalah keniscayaan, dan NU sebagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan harus mampu membaca arah perubahan serta meresponsnya dengan cermat agar tetap bisa memberikan manfaat bagi umat.

“Kita harus paham betul bagaimana keadaan lingkungan ini berubah dan bagaimana kita harus segera menyesuaikan diri supaya bisa bertahan. Ini yang orang sering lupa,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga menyinggung kembali posisi NU setelah kembali ke Khittah 1926, yang melarang NU ikut dalam kontestasi politik kekuasaan.

 Meski demikian, NU tetap punya tanggung jawab untuk terlibat dalam urusan sosial demi kemaslahatan umat.

“Kedudukan NU adalah membantu memastikan bahwa agenda dan program pemerintah benar-benar membawa manfaat, maslahat, dan itu harus sampai kepada rakyat yang membutuhkan,” jelas Gus Yahya.

Menurutnya, konsolidasi gerakan NU juga harus dilandasi oleh tradisi keilmuan dan spiritualitas yang kuat. Ia mengingatkan bahwa setiap kebijakan dan keputusan harus berdasar pada ilmu yang diperoleh dari guru, bukan sekadar dari informasi digital.

“Ilmu itu harus diperoleh dengan guru, tidak cukup dari Google atau AI. Karena agama bukan Cuma soal pemahaman, tapi juga ruhani,” ucap Ketum PBNU itu.

Selain aspek keilmuan, Gus Yahya juga menekankan pentingnya keikhlasan dalam berkhidmah di NU. Ia menyebut bahwa NU adalah organisasi yang dianggap keramat oleh banyak kalangan, sehingga setiap niat dan langkah harus diluruskan.

Idza akhlashta niyyataka lillah, kafa Allahu maa baynaka wa bainannas. Kalau niatmu karena Allah, maka Allah sendiri yang akan membereskan urusanmu dengan manusia,” tuturnya mengutip nasihat spiritual.

Acara pelantikan PWNU Sumsel ini dihadiri oleh berbagai tokoh, termasuk Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Katib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori, Wakil Ketua PBNU Amin Said Husni, Ketua Tanfidziyah PWNU Sumsel Hendra Abdullah, dan Rais Syuriah PWNU Sumsel KH Mal’an Abdullah.

Dengan konsolidasi sebagai landasan strategis, serta keikhlasan dan tradisi keilmuan sebagai fondasi, NU terus memperkuat perannya dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai keagamaan dan sosial di tengah arus perubahan zaman. (ivan)