Gus Yahya Tegaskan Ilmu Tanpa Sanad Seperti Barang Curian

bumi pesantren | 13 Juli 2025 04:50

Gus Yahya Tegaskan Ilmu Tanpa Sanad Seperti Barang Curian
Gus Yahya saat Kuliah Umum Pembukaan Nasyrus Sanad, di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. (dok nuonline)

JOMBANG, PustakaJC.co - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya kembali menegaskan pentingnya sanad keilmuan dalam menjaga otoritas ajaran Islam di pesantren. Ia menyebut, keberlangsungan pesantren dan NU sejak dulu ditopang oleh tradisi sanad yang kokoh.

 

“Sanad ini adalah inti, tulang punggung sebetulnya, dari tradisi pesantren dan tradisi NU,” ujar Gus Yahya saat menyampaikan Kuliah Umum dalam Pembukaan Nasyrus Sanad di Pesantren Tebuireng, Jombang, dikutip dari nu.or.id, Minggu, (13/7/2015).

Pesan tentang pentingnya sanad pertama kali ia dengar dari KH Maimoen Zubair. “Kalau pesantren ingin bertahan lama, maka harus memiliki sanad,” ungkap Gus Yahya mengutip wejangan almaghfurlah Mbah Moen.

Ia juga mengisahkan bahwa saat mendirikan NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari hanya mengajak ulama yang memiliki sanad keilmuan untuk bergabung. Menurut Gus Yahya, KH Hasyim Asy’ari menekankan bahwa ulama yang bersanad adalah “gudang-gudangnya ilmu dan pintu-pintunya ilmu.”

 

“Janganlah orang masuk rumah kecuali lewat pintunya. Barang siapa masuk rumah tidak lewat pintu, tapi lewat jendela atau genting, orang itu dinamai pencuri,” kutip Gus Yahya dari pesan KH Hasyim.

Gus Yahya juga menyinggung peringatan Ibnu Sirin, seorang ulama tabiin besar, soal bahaya mengambil ilmu tanpa otoritas sanad.

“Ilmu ini adalah agama. Maka berhati-hatilah, telitilah kalian dari siapa kalian mengambil agama kalian,” tegasnya.

Ia mengingatkan, meski seseorang tampak fasih bicara agama, bila ilmunya tidak diambil dari jalur sanad yang sah, maka yang ia bawa bukan ilmu, melainkan “barang curian”.

“Mungkin seseorang bisa mengajarkan banyak hal. Tapi jika ilmunya tidak diambil dari pintunya, maka itu bukan ilmu yang sah, itu barang curian,” tukas ketua umum PBNU itu.

Gus Yahya mengajak generasi muda, khususnya para santri, untuk menjaga sanad sebagai tradisi intelektual Islam yang luhur. Melalui sanad, bukan hanya ilmu yang diwariskan, tapi juga nilai, akhlak, dan tanggung jawab keilmuan yang tak terputus dari para ulama terdahulu. (ivan)