Tak hanya aktif secara kelembagaan, Kiai Imam juga menjadi tokoh penting dalam upaya rekonsiliasi nasional atas tragedi kemanusiaan 1965. Ia dikenal memperjuangkan ruang dialog dan keadilan bagi para penyintas melalui pendekatan keislaman dan kebangsaan yang moderat.
Ziarah yang dilakukan Gus Yahya menjadi simbol penghormatan PBNU terhadap dedikasi KH Imam Aziz. Di akhir kunjungannya, Gus Yahya memimpin doa bersama di pusara almarhum.
“Dengan memulai dari detik itu, semoga Allah swt memberi karunia berkah nikmat yang agung untuk kita dan untuk guru kita KH Imam Aziz. Al-Fatihah,” tutupnya dengan suara bergetar.
Kepergian KH Imam Aziz meninggalkan duka mendalam, namun juga membuka pintu bagi kelanjutan perjuangan. Bagi para santri dan warga NU, menjaga ilmu, ketulusan, dan keberpihakan yang diwariskan beliau bukan sekadar kewajiban moral, tapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan seorang ulama sejati. (ivan)