Gus Yahya Minta Santri Jaga Warisan KH Imam Aziz

bumi pesantren | 22 Juli 2025 04:52

Gus Yahya Minta Santri Jaga Warisan KH Imam Aziz
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat berdoa di pusara KH Imam Aziz di Kompleks Pesantren Bumi Cendekia, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (dok nuonline)

SLEMAN, PustakaJC.co – Suasana haru menyelimuti kompleks Pesantren Bumi Cendekia, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, saat Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) berziarah ke makam KH Imam Aziz pada Senin, (21/7/2025) sore.

Kiai Imam Aziz, yang wafat pada Sabtu, (12/7/2025), dikenal luas sebagai sosok ulama pejuang yang konsisten mengabdi untuk umat, khususnya di kalangan akar rumput Nahdliyin. Dalam ziarahnya, Gus Yahya menyampaikan pesan khusus kepada para santri agar tidak melupakan warisan besar dari sang kiai. Dilansir dari nu.or.id, Selasa, (22/7/2025).

“Saya berpesan kepada segenap santri Bumi Cendekia untuk menjaga ta’allum dan tadris, diabdikan tidak lain untuk mengharap ridha Allah swt,” kata Gus Yahya di hadapan para santri dan pengasuh pondok.

Menurutnya, KH Imam Aziz bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang pemikir dan aktivis yang mewariskan nilai-nilai keberpihakan terhadap umat lemah. Ia mendorong santri agar meneruskan perjuangan Kiai Imam melalui ilmu dan pengabdian.

“Kiai Imam adalah figur aktivis NU yang telaten merawat umat akar rumput. Ilmu, ketulusan, dan komitmennya terhadap maslahat umat adalah warisan yang harus dijaga,” ujar Gus Yahya menegaskan.

KH Imam Aziz semasa hidup dikenal sebagai pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta. Ia juga menggagas sejumlah inisiatif penting di lingkungan NU seperti Mubes Warga NU (2004) dan Syarikat—gerakan santri untuk advokasi rakyat. Dalam dunia ke-NU-an, ia berperan sebagai ketua pelaksana Muktamar ke-33 NU di Jombang (2015) dan Muktamar ke-34 NU di Lampung (2021).

Tak hanya aktif secara kelembagaan, Kiai Imam juga menjadi tokoh penting dalam upaya rekonsiliasi nasional atas tragedi kemanusiaan 1965. Ia dikenal memperjuangkan ruang dialog dan keadilan bagi para penyintas melalui pendekatan keislaman dan kebangsaan yang moderat.

Ziarah yang dilakukan Gus Yahya menjadi simbol penghormatan PBNU terhadap dedikasi KH Imam Aziz. Di akhir kunjungannya, Gus Yahya memimpin doa bersama di pusara almarhum.

“Dengan memulai dari detik itu, semoga Allah swt memberi karunia berkah nikmat yang agung untuk kita dan untuk guru kita KH Imam Aziz. Al-Fatihah,” tutupnya dengan suara bergetar.

Kepergian KH Imam Aziz meninggalkan duka mendalam, namun juga membuka pintu bagi kelanjutan perjuangan. Bagi para santri dan warga NU, menjaga ilmu, ketulusan, dan keberpihakan yang diwariskan beliau bukan sekadar kewajiban moral, tapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan seorang ulama sejati. (ivan)