Amalan Masyhur Jumat Terakhir Rajab 1447 H, Dibaca 35 Kali Saat Khutbah Kedua

bumi pesantren | 16 Januari 2026 11:00

Amalan Masyhur Jumat Terakhir Rajab 1447 H, Dibaca 35 Kali Saat Khutbah Kedua
ilustrasi amalan bulan rajab. (dok relawannusantara)

SURABAYA, PustakaJC.co - Bulan Rajab 1447 Hijriyah telah memasuki pekan terakhir. Di kalangan umat Islam, khususnya di Nusantara, terdapat amalan masyhur yang dianjurkan dibaca pada Jumat terakhir bulan Rajab sebagai ikhtiar spiritual agar rezeki tetap cukup sepanjang tahun.

 

Pada tahun 2026, Jumat terakhir bulan Rajab bertepatan dengan 16 Januari 2026. Amalan ini kerap diijazahkan oleh para ulama dan dibaca sebanyak 35 kali saat khatib menyampaikan khutbah kedua. Dilansir dari nu.or.id, Jumat, (16/1/2026).

 

Adapun bacaan yang diamalkan adalah sebagai berikut:

 

أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

 

Ahmadu Rasûlullâh, Muhammad Rasûlullâh

Artinya: “Ahmad adalah utusan Allah, Muhammad adalah utusan Allah.”

 

 

 

Di antara keutamaan amalan ini, sebagaimana riwayat para ulama, adalah sebagai wasilah agar uang atau rezeki tidak terputus sepanjang tahun. Amalan tersebut telah diamalkan oleh banyak orang dan dirasakan manfaatnya.

 

Referensi amalan ini dijelaskan oleh Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali (1277–1335 H) dalam kitab Kanzun Najah was Surur. Ia mengutip faedah dari Syekh Ali Al-Ajhuri sebagai berikut:

 

وَمِنْ فَوَائِدِ الشَّيْخِ عَلِيٍّ اَلْأَجْهُوْرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَمَا فِيْ تَرْجَمَتِهِ بِخُلَاصَةِ الْأَثَرِ أَنَّ مَنْ قَرَأَ فِيْ آخِرِ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَالْخَطِيْبُ عَلَى الْمِنْبَرِ أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهْ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهْ (خَمْسًا وَثَلَاثِيْنَ مَرَّةً) لَا تَنْقَطِعُ الدَّرَاهِمُ مِنْ يَدِهِ ذَلِكَ السَّنَةَ

 

Artinya:

“Di antara faedah Syekh Ali Al-Ajhuri RA sebagaimana tercantum dalam Khulashatil Atsar, barang siapa membaca pada Jumat terakhir bulan Rajab saat khatib berada di atas mimbar bacaan ‘Ahmadu Rasulullah Muhammadun Rasulullah’ sebanyak 35 kali, maka tidak akan terputus dirham (uang) dari tangannya selama setahun.”

(Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali, Kanzun Najah was Surur, Darul Hawi, Beirut, 2009 M/1430 H, hlm. 147–148).

 

 

Keterangan tersebut diperkuat oleh Al-Habib Ali bin Hasan Baharun, yang menukil ijazah dari gurunya Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, dalam kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah:

 

فَائِدَةٌ. لِإِبْقَاءِ الدُّرَيْهِمَاتِ فِيْ جَمِيْعِ السَّنَةِ الْإِتْيَانُ بِهَذَا الذِّكْرِ (35 مَرَّةً) فِيْ آخِرِ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبَ حَالَ الْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ، وَهُوَ أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله، وَقَدْ جَرَّبَهُ الْكَثِيْرُ وَصَحَّ عِنْدَهُمْ

 

Artinya:

(Faedah) Untuk menjaga agar uang tetap ada sepanjang tahun, dianjurkan membaca dzikir ini sebanyak 35 kali pada Jumat terakhir bulan Rajab saat khutbah kedua. Dzikir tersebut adalah ‘Ahmad Rasûlullâh Muhammad Rasûlullâh’. Amalan ini telah dicoba oleh banyak orang dan terbukti hasilnya.

(Al-Habib Ali bin Hasan Baharun, Al-Fawaid al-Mukhtarah, hlm. 445).

 

Sebagai penutup, para ulama menegaskan bahwa setiap amalan tidak memberi manfaat maupun mudarat kecuali atas izin Allah SWT. Amalan ini dipahami sebagai bentuk ikhtiar batin dan doa agar senantiasa diberi kecukupan rezeki serta keberkahan hidup. (ivan)