Kitab Kuning Jadi Tameng Kekerasan di Pesantren, Begini Caranya

bumi pesantren | 18 Mei 2026 06:36

Kitab Kuning Jadi Tameng Kekerasan di Pesantren, Begini Caranya
Fahmi Arif El Muniry (Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak). (dok kemenag)

 

 

SURABAYA, PustakaJC.co - Fenomena kekerasan di lembaga pendidikan, termasuk pesantren, kembali menjadi sorotan. Mulai dari bullying, penghinaan verbal, hukuman fisik berlebihan, hingga kekerasan seksual dalam relasi kuasa yang timpang masih ditemukan di sejumlah tempat pendidikan.

 

Namun, tradisi pesantren sejatinya memiliki benteng moral kuat untuk mencegah kekerasan, yakni melalui pengajaran kitab kuning yang menanamkan adab, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Dilansir dari kemenag.go.id, Senin, (18/5/2026).

 

Hal itu disampaikan Fahmi Arif El Muniry, khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak, dalam tulisannya yang terbit Senin (18/5/2026).

 

Menurutnya, kasus kekerasan memang tidak bisa digeneralisasi sebagai wajah seluruh pesantren. Sebab ribuan pesantren di Indonesia justru menjadi ruang lahirnya pendidikan moral, kasih sayang, dan keteladanan.

 

“Namun satu kasus kekerasan saja bisa merusak kepercayaan publik dan melukai masa depan anak,” tulisnya.