MOJOKERTO, PustakaJC.co – Pondok Pesantren Amanatul Ummah resmi mengajukan diri sebagai lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026.
Pengajuan tersebut disampaikan melalui surat resmi yang dikirim kepada Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU di Jakarta tertanggal 21 Mei 2026. Dilansir dari duta.co, Sabtu, (23/5/2026).
Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim, mengatakan pihaknya siap mendukung penuh pelaksanaan forum tertinggi NU tersebut.
“Kami berharap diberikan kesempatan menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU. Amanatul Ummah siap secara lahir maupun batin untuk ikut menyukseskan agenda besar jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ujar KH Asep Saifuddin Chalim, Kamis, (21/5/2026).
Menurutnya, kesiapan pesantren tidak hanya dari sisi sumber daya manusia, tetapi juga didukung sarana dan prasarana yang memadai untuk kegiatan berskala nasional.
Di kompleks utama pesantren, tersedia Masjid Raya Abdul Chalim tiga lantai, guest house, student center berkapasitas sekitar 4.000 peserta, klinik tiga lantai, area parkir luas, hingga sejumlah gedung pendidikan bertingkat.
Selain itu, dukungan fasilitas juga berasal dari kompleks MBI Amanatul Ummah, MTs dan MA Hikmatul Amanah, serta Universitas KH Abdul Chalim yang memiliki gedung perkuliahan, wisma, apartemen mahasiswa, masjid, guest house, hingga gedung entrepreneurship.
Selain kesiapan fasilitas, Mojokerto juga memiliki kedekatan historis dengan Nahdlatul Ulama. PCNU Mojokerto tercatat sebagai salah satu cabang tertua NU karena berdiri hanya dua tahun setelah organisasi tersebut didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya.
Kedekatan geografis dengan Surabaya membuat Mojokerto menjadi salah satu daerah prioritas pembentukan cabang NU pada masa awal perkembangan organisasi. Banyak kiai dan santri Mojokerto saat itu juga memiliki hubungan keilmuan dengan Pondok Pesantren Tebuireng yang diasuh KH Hasyim Asy’ari.
Pembentukan PCNU Mojokerto diprakarsai salah satu pendiri NU, KH Wahab Chasbullah, bersama KH Bisri Syansuri. Keduanya datang ke Mojokerto pada 28 Mei 1929 untuk mematangkan pembentukan cabang NU di wilayah tersebut.
Saat itu, struktur kepengurusan NU Mojokerto telah terbentuk mulai Rais Syuriyah, Tanfidziyah hingga bendahara. Setelah melalui proses verifikasi, NU Mojokerto resmi berstatus sebagai pengurus cabang dan mendapat tiket menghadiri Muktamar ke-4 NU di Semarang pada 1929.
Dengan latar historis dan kesiapan fasilitas yang dimiliki, Amanatul Ummah berharap dapat menjadi bagian penting dalam menyukseskan Muktamar ke-35 NU tahun 2026. (ivan)