Pesantren Kian Peduli Kesehatan Mental, Ini Praktik Baik Tangani Luka Psikologis Santri

bumi pesantren | 30 Mei 2026 08:22

Pesantren Kian Peduli Kesehatan Mental, Ini Praktik Baik Tangani Luka Psikologis Santri
Santri sedang memaknai dan merenungkan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an di lingkungan pesantren. (dok kemenag)

JAKARTA, PustakaJC.co – Pesantren tidak lagi hanya berperan sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pengasuhan yang memperhatikan kesehatan mental santri secara menyeluruh. Sejumlah pesantren di Indonesia kini menerapkan pendekatan holistik untuk menangani luka psikologis santri melalui perpaduan pendampingan spiritual, psikososial, dan layanan profesional.

 

Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, mengatakan berbagai praktik baik tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan pesantren ramah anak sekaligus lingkungan belajar yang aman dan sehat secara emosional. Dilansir dari kemenag.go.id, Sabtu, (30/5/2026).

 

“Pendekatan ini diyakini mampu membantu santri memperoleh ketenangan jiwa dan kestabilan emosi,” ujar Basnang, Jumat, (29/5/2026).

 

 

Salah satu contoh datang dari Pesantren Modern Al Amanah Junwangi, Sidoarjo, Jawa Timur. Pesantren ini menggabungkan terapi spiritual melalui pembiasaan membaca Al-Qur’an, salat sunnah, zikir, hingga riyadhah bathiniyah bersama Jam’ah Syadziliyah.

 

Selain itu, Al Amanah mengembangkan program Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) bekerja sama dengan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dan Kementerian Kesehatan. Program tersebut membekali pengasuh, guru, dan santri dengan kemampuan deteksi dini serta pendampingan emosional awal.

 

Pesantren juga aktif menggelar seminar kesehatan mental remaja dan menggandeng psikolog maupun aparat kepolisian dalam kegiatan edukatif. Untuk kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut, Al Amanah bekerja sama dengan fasilitas kesehatan dan layanan psikologi profesional, termasuk RSUD Sidoarjo Barat.

 

Praktik serupa diterapkan Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru, Riau. Pesantren berbasis boarding school ini menempatkan guru agama dan pengasuh sebagai garda terdepan dalam perlindungan kesehatan mental santri.

 

Pendekatan yang dilakukan meliputi bimbingan emosional berbasis nilai Islam, penguatan hubungan suportif antara pengasuh dan santri, serta deteksi dini terhadap perubahan perilaku yang berpotensi mengarah pada gangguan psikologis.

 

 

 

Sementara itu, Perguruan Islam Ar Risalah Padang, Sumatera Barat, menghadirkan sistem penanganan yang lebih komprehensif melalui pendekatan psikososial, spiritual, dan penguatan sistem asrama.

 

Pesantren yang pernah meraih penghargaan Pesantren Ramah Anak Terbaik se-Sumatera Barat tersebut menyediakan layanan konseling rutin melalui tim konselor dan pembina asrama yang telah mendapatkan pelatihan khusus.

 

Program tarbiyah ruhiyah seperti salat berjamaah, zikir, muhasabah, dan pembinaan karakter juga menjadi bagian dari proses pemulihan emosional santri. Selain itu, mentoring kelompok kecil dilakukan secara rutin untuk memantau adaptasi santri, mengelola stres, serta memperkuat dukungan sosial antarteman.

 

Menurut Basnang, berbagai praktik baik tersebut menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi lingkungan yang tidak hanya mendidik secara akademik dan spiritual, tetapi juga mendukung kesehatan mental serta perlindungan anak secara berkelanjutan.

 

“Pendekatan spiritual yang dipadukan dengan pendampingan psikologis profesional menjadi model penting dalam membangun pesantren yang ramah anak, inklusif, dan berdaya pulih terhadap tantangan psikologis generasi muda,” pungkasnya. (ivan)