10 Muharram Jadi Momentum Meraih Ampunan, Ini Keutamaan Puasa Asyura dan Amalan yang Dianjurkan

bumi pesantren | 26 Juni 2026 09:41

10 Muharram Jadi Momentum Meraih Ampunan, Ini Keutamaan Puasa Asyura dan Amalan yang Dianjurkan
Dok baznas

SURABAYA, PustakaJC.co - Umat Islam akan segera memasuki 10 Muharram atau Hari Asyura, salah satu hari paling istimewa dalam kalender Hijriah yang memiliki banyak keutamaan. Pada hari tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, terutama melaksanakan puasa Asyura yang dijanjikan pahala besar oleh Allah SWT.

 

Muharram sendiri merupakan satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan meningkatkan amal saleh dan menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan.

 

Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharram memiliki nilai sejarah penting dalam Islam. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun.

 

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Asyura diharapkan dapat menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun sebelumnya.

 

Para ulama menjelaskan, keutamaan tersebut berlaku bagi dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap harus disertai taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT.

 

 

Selain menjadi momentum meraih ampunan, Hari Asyura juga mengajarkan pentingnya rasa syukur atas pertolongan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

 

Kisah Nabi Musa AS yang diselamatkan ketika Laut Merah terbelah menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah selalu datang kepada orang-orang yang bersabar dan bertawakal.

 

Karena itu, 10 Muharram tidak hanya diisi dengan puasa sunnah, tetapi juga menjadi waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, bersedekah, menyambung silaturahmi, dan membantu sesama.

 

Banyak ulama juga menganjurkan umat Islam berpuasa pada 9 dan 10 Muharram atau 10 dan 11 Muharram sebagai bentuk penyempurnaan ibadah sekaligus membedakan pelaksanaan puasa dengan tradisi kaum Yahudi.

 

Momentum tahun baru Hijriah juga dinilai menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri, memperbaiki kualitas ibadah, serta menyusun target spiritual yang lebih baik.

 

 

Meski memiliki banyak keutamaan, umat Islam diingatkan agar tidak melakukan amalan yang tidak memiliki dasar syariat.

 

Para ulama mengimbau masyarakat menghindari keyakinan berlebihan terhadap Hari Asyura, ritual yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW, maupun penyebaran hadis-hadis lemah dan palsu mengenai keutamaan bulan Muharram.

 

Sebaliknya, Hari Asyura hendaknya dijadikan momentum untuk memperkuat keimanan, meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, serta menumbuhkan kepedulian sosial melalui sedekah dan berbagai bentuk kebaikan kepada sesama.

 

Dengan memanfaatkan keutamaan 10 Muharram, umat Islam diharapkan dapat meraih ampunan, rahmat, dan keberkahan Allah SWT sekaligus menjadikan awal tahun Hijriah sebagai titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik.

(int)