Kemenag Minta Umat Tak Mudah Percaya Konten Dakwah AI, Literasi Digital Jadi Benteng Utama

bumi pesantren | 30 Juni 2026 20:37

Kemenag Minta Umat Tak Mudah Percaya Konten Dakwah AI, Literasi Digital Jadi Benteng Utama
Dok kemenag

SURABAYA, PustakaJC.co – Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa kemudahan dalam menghasilkan berbagai konten digital, termasuk materi dakwah di media sosial. Namun, di balik kemajuan tersebut, masyarakat diminta lebih kritis dan tidak langsung mempercayai setiap konten keagamaan yang dibuat menggunakan teknologi AI.

 

Direktur Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) RI, KH Basnang Said, mengingatkan pentingnya memperkuat literasi penggunaan AI, terutama di kalangan santri dan masyarakat umum. Menurutnya, perkembangan teknologi harus diimbangi kemampuan memilah informasi agar tidak terjebak pada konten yang menyesatkan.

 

"Jangan langsung percaya, karena bisa jadi itu adalah kamuflase permainan yang justru nanti akan menggerus apa yang dipelajari di pondok pesantren," ujar Basnang dalam AI Teaching Power Impact Forum yang diselenggarakan NU Care Global bersama Microsoft, Senin (29/6/2026).

 

Basnang menjelaskan, konten dakwah berbasis AI saat ini semakin sulit dibedakan dengan materi yang disampaikan oleh manusia. Visual maupun narasi yang dihasilkan AI dapat terlihat sangat meyakinkan, padahal belum tentu sesuai dengan ajaran Islam yang benar.

 

 

Karena itu, Kemenag menilai literasi digital dan literasi AI harus menjadi bagian penting dalam pendidikan pesantren maupun pembinaan masyarakat. Kemampuan memverifikasi sumber informasi dinilai menjadi kunci agar umat tidak mudah terpengaruh oleh konten keagamaan yang menyesatkan.

 

Menurut Basnang, para kiai memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi, bukan hanya kepada santri yang tinggal di pesantren, tetapi juga kepada jamaah di majelis taklim dan masyarakat luas. Kehadiran ulama tetap menjadi rujukan utama dalam memahami ajaran agama di tengah derasnya arus informasi digital.

 

Ia menegaskan, teknologi AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan menggantikan otoritas keilmuan para ulama yang dibangun melalui proses pendidikan, sanad keilmuan, serta pemahaman mendalam terhadap ajaran Islam.

 

 

Kemenag berharap masyarakat semakin bijak menyikapi perkembangan teknologi digital. Setiap informasi keagamaan yang beredar di media sosial perlu diverifikasi terlebih dahulu kepada sumber yang kredibel, termasuk ulama, lembaga keagamaan resmi, maupun pesantren yang memiliki otoritas keilmuan.

 

Dengan meningkatnya literasi AI, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan kemajuan teknologi secara positif tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dalam memahami ajaran agama.

(int)