Peluncuran Kitab Baru Jadi Momentum Kebangkitan Keilmuan Pesantren

bumi pesantren | 12 Juli 2026 07:18

Peluncuran Kitab Baru Jadi Momentum Kebangkitan Keilmuan Pesantren
Peluncuran kitab karya terbarunya berjudul Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Aula Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. (dok nuonline)

JAKARTA, PustakaJC.co – Peluncuran kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa karya Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, dinilai menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan pesantren yang selama ini menjadi fondasi utama perkembangan intelektual Islam di Indonesia.

 

Kitab tersebut diluncurkan dalam kegiatan Launching & Bedah Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa yang berlangsung di Aula Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, (10/7/2026) malam. Acara itu dihadiri jajaran PBNU, pengurus PWNU, serta PCNU dari berbagai daerah. Dilansir dari nu.or.id, Minggu, (12/7/2026).

 

Dalam sambutan yang dibacakan KH Mujib Qulyubi, Mustasyar PBNU, KH Said Aqil Siroj, menyampaikan apresiasi atas terbitnya kitab tersebut. Menurutnya, karya KH Zulfa merupakan upaya nyata menghadirkan referensi keilmuan yang berpijak pada tradisi pesantren di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap bersifat instan.

 

 

Ia menegaskan bahwa keberadaan kitab-kitab karya ulama tetap menjadi kebutuhan penting untuk menjaga kedalaman ilmu pengetahuan dan kesinambungan sanad keilmuan. Kehadiran karya tersebut juga menjadi pengingat bahwa Nahdlatul Ulama dibangun di atas tradisi intelektual yang kuat.

 

Menurut Said Aqil, kemajuan organisasi tidak hanya ditentukan oleh tata kelola yang baik, tetapi juga oleh kemampuan menjaga dan mengembangkan khazanah keilmuan yang menjadi ruh perjuangan NU sejak awal berdiri.

 

“Kita berharap dapat menggali lebih dalam isi, relevansi, serta gagasan yang terkandung dalam kitab ini,” ujarnya.

 

 

 

Sementara itu, Ketua Lembaga Dakwah PBNU, KH Abdullah Syamsul Arifin atau Gus Aab, menilai KH Zulfa memiliki kemampuan mengembangkan teori-teori klasik, khususnya dalam bidang ushul fikih, menjadi solusi atas berbagai persoalan hukum Islam kontemporer.

 

Menurutnya, kemampuan tersebut penting dimiliki para aktivis Bahtsul Masail agar dapat melahirkan keputusan hukum yang tetap berlandaskan khazanah ulama klasik sekaligus relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

 

“Ini yang harus dimiliki oleh para aktivis Bahtsul Masail,” katanya.

 

Pada kesempatan itu, KH Zulfa Mustofa menegaskan bahwa tradisi Nahdlatul Ulama sejak dahulu dibangun melalui karya-karya tulis para ulama. Karena itu, budaya menulis kitab perlu terus dipertahankan agar pemikiran dan metodologi keilmuan NU dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

 

Ia berharap semakin banyak ulama dan akademisi pesantren yang menghasilkan karya ilmiah sebagai bentuk kontribusi dalam menjaga keberlanjutan tradisi intelektual Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

 

“Kita tahu tradisi di NU adalah tradisi keilmuan yang sangat kuat. Saya ingin tradisi menulis kitab terus hidup sehingga ulama-ulama NU meninggalkan karya yang bisa menjadi warisan bagi generasi mendatang,” ujarnya.

 

 

 

Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa menghimpun empat karya berbahasa Arab yang membahas metodologi Bahtsul Masail, ushul fikih, fatwa kontemporer, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.

 

Salah satu pembahasan utama dalam kitab tersebut mengulas metodologi pengambilan keputusan hukum di lingkungan NU. Pendekatan yang digunakan menekankan pentingnya memahami tujuan syariat (maqashid syariah), kondisi sosial masyarakat, adat istiadat, hingga perkembangan zaman sebelum menetapkan suatu fatwa.

 

Melalui peluncuran kitab ini, para ulama berharap tradisi keilmuan pesantren tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang dan mampu menjawab berbagai tantangan kehidupan masyarakat di era modern. (ivan)