Muktamar ke-19 kemudian digelar di Palembang pada 26 April–2 Mei 1952. Forum ini dikenang karena menghasilkan keputusan penting, yakni keluarnya NU dari Partai Masyumi dan berdirinya Partai NU sebagai kekuatan politik tersendiri.
Dua tahun berikutnya, Surabaya menjadi tuan rumah Muktamar ke-20 yang berlangsung di Gedung Pekan Raya Surabaya. Muktamar tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi menjelang Pemilu 1955, ketika NU berhasil meraih posisi tiga besar perolehan suara nasional.
Pada 1956, Muktamar ke-21 diselenggarakan di Gedung Nasional Medan. Namun situasi keamanan yang tidak kondusif akibat pergolakan daerah membuat sebagian agenda muktamar harus dilanjutkan di Jakarta.
Jakarta kembali menjadi lokasi Muktamar ke-22 pada Desember 1959. Muktamar ini menjadi forum terakhir yang diikuti salah satu ulama pendiri NU, KHR Asnawi Kudus, sebelum wafat pada akhir tahun yang sama.
Adapun Muktamar terakhir NU pada era Orde Lama berlangsung di Surakarta pada 1962. Forum yang digelar di kompleks Dalem Kusumojudan tersebut berlangsung di tengah dinamika politik nasional pada masa Demokrasi Terpimpin dan Kabinet Nasakom.
Melalui perjalanan tersebut, lokasi penyelenggaraan Muktamar NU mencerminkan dinamika organisasi sekaligus perjalanan sejarah bangsa, mulai dari masa revolusi kemerdekaan hingga perkembangan politik nasional pada awal dekade 1960-an. (ivan)