Pesantren Tunanetra Perluas Akses Belajar bagi Penyandang Disabilitas Netra

bumi pesantren | 01 Agustus 2026 18:30

Pesantren Tunanetra Perluas Akses Belajar bagi Penyandang Disabilitas Netra
Sejumlah santri tunanetra membaca Al-Qur’an Braille bersama di ruang belajar Pesantren Raudlatul Makfufin, sementara guru mendampingi proses pembelajaran usai shalat berjamaah. (dok nuonline)

TANGERANG SELATAN, PustakaJC.co – Sekolah dan Pesantren Tunanetra Raudlatul Makfufin di Serpong, Kota Tangerang Selatan, terus memperluas akses pendidikan bagi penyandang disabilitas netra melalui layanan pendidikan agama, pendidikan formal, hingga pengembangan literasi Braille. Lembaga yang berdiri sejak 1983 ini menjadi salah satu pelopor pendidikan inklusif yang memberikan kesempatan belajar setara bagi para tunanetra.

 

Suasana belajar di lingkungan pesantren berlangsung seperti lembaga pendidikan pada umumnya. Seusai shalat berjamaah, para santri membaca Al-Qur’an dengan meraba titik-titik timbul pada mushaf Braille. Melalui sentuhan jari, mereka melafalkan ayat-ayat suci dengan lancar sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran sehari-hari. Dilansir dari nu.or.id, Minggu, (1/8/2026).

 

Keunikan lainnya, sebagian besar tenaga pendidik di Raudlatul Makfufin juga merupakan penyandang disabilitas netra. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan belajar yang inklusif sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak menghalangi seseorang untuk mengajar dan berbagi ilmu.

 

Salah seorang guru, Vimall Fitri, mengatakan hampir seluruh peserta didik di sekolah tersebut merupakan tunanetra, begitu pula sebagian besar tenaga pengajarnya.

 

“Di sini, seluruh siswa tunanetra, sebagian besar guru juga tunanetra, walaupun ada yang enggak seperti saya. Bahkan kepala sekolahnya juga tunanetra,” ujar Vimall Fitri.

 

 

Pesantren Raudlatul Makfufin didirikan oleh almarhum RM Halim Sholeh yang juga merupakan seorang dai tunanetra. Berangkat dari keprihatinan terhadap minimnya akses pendidikan agama bagi penyandang disabilitas netra, ia memulai kegiatan dengan menggelar pengajian rutin pada 1983. Inisiatif tersebut kemudian berkembang menjadi pesantren khusus tunanetra pertama di Indonesia.

 

Seiring perkembangannya, lembaga ini tidak hanya menyediakan pendidikan keagamaan, tetapi juga menyelenggarakan pendidikan formal mulai jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas hingga majelis taklim. Dengan mengusung slogan “Tiada Mata Tak Hilang Cahaya”, Raudlatul Makfufin berupaya menghadirkan pendidikan yang ramah dan setara bagi seluruh penyandang disabilitas netra.

 

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pengembangan literasi Braille. Pada 1996, RM Halim Sholeh menggagas digitalisasi Al-Qur’an Braille yang kemudian memasuki tahap pencetakan massal pada tahun 2000. Hingga kini, mushaf Al-Qur’an Braille hasil produksi Raudlatul Makfufin telah didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan menjangkau sejumlah negara seperti Turki, Thailand, dan Afrika Selatan.

 

Untuk mendukung kemampuan membaca Al-Qur’an, yayasan juga menyusun buku Pandai Membaca Al-Qur’an Braille. Buku tersebut dirancang sebagai panduan pembelajaran huruf Arab Braille yang disesuaikan dengan kebutuhan penyandang tunanetra.

 

 

Selain mengembangkan literatur keagamaan, Yayasan Raudlatul Makfufin bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional RI dalam mengalihaksarakan berbagai buku pengetahuan umum ke format Braille. Upaya ini dilakukan untuk memperluas akses informasi sekaligus memberikan kesempatan yang sama bagi penyandang disabilitas netra dalam memperoleh ilmu pengetahuan.

 

Melalui berbagai program tersebut, Raudlatul Makfufin terus menunjukkan komitmennya dalam membangun pendidikan yang inklusif, sehingga penyandang disabilitas netra memiliki ruang yang setara untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan berkontribusi di tengah masyarakat. (ivan)