80 Pesantren di Jatim Didorong Kembangkan Ekonomi Mandiri

bumi pesantren | 07 Agustus 2026 18:12

80 Pesantren di Jatim Didorong Kembangkan Ekonomi Mandiri
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal saat ditemui dalam kegiatan Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur 2026 di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep. (dok kominfo)

SUMENEP, PustakaJC.co – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur terus mendorong penguatan ekonomi pesantren melalui pengembangan usaha produktif, peningkatan tata kelola, digitalisasi, dan perluasan akses pasar.

 

Hingga 2026, BI se-Jawa Timur telah membina 80 pondok pesantren dengan 112 unit usaha dari berbagai sektor. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang berkelanjutan. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Jumat, (7/8/2026).

 

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, mengatakan pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pendidikan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

 

Menurutnya, potensi tersebut didukung oleh ketersediaan lahan, sumber daya manusia, jaringan alumni, serta pasar internal pesantren yang cukup kuat.

 

“Apabila potensi tersebut dikelola secara produktif, pesantren tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan produksi dan stabilitas pasokan pangan di daerah,” ujar Rifki saat ditemui dalam kegiatan Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur 2026 di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jumat, (7/8/2026).

 

 

 

 

BI memberikan pendampingan secara terintegrasi, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi pertanian, penguatan kelembagaan usaha hingga perluasan akses pemasaran.

 

Pendampingan juga tidak berhenti pada pemberian bantuan. BI melakukan pemantauan berkala terhadap perkembangan usaha, pemanfaatan sarana produksi hingga pemasaran melalui komunikasi langsung dan pelaporan pada Sistem Informasi Pelaku Usaha Syariah Bank Indonesia (SIPUSBI).

 

Salah satu pesantren binaan yang dinilai berkembang adalah Pondok Pesantren Annuqayah. BI mendukung pengembangan sektor pertanian dan usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) bermerek SUCI.

 

Dukungan tersebut antara lain berupa mesin combine harvester untuk sektor pertanian dan mesin pengisi galon otomatis bagi unit usaha AMDK.

 

Rifki menjelaskan, penggunaan mesin panen modern mampu menekan biaya panen sekitar 5 persen sekaligus memberikan manfaat bagi kelompok tani di sekitar pesantren.

 

 

Sementara itu, unit usaha AMDK SUCI telah memiliki kapasitas produksi yang cukup besar dengan jaringan pemasaran yang menjangkau sejumlah wilayah di Madura.

 

Meski berkembang, BI menilai usaha pesantren masih perlu diperkuat melalui peningkatan tata kelola, standardisasi mutu produk, pengembangan sumber daya manusia, efisiensi produksi, serta perluasan jaringan distribusi.

 

Melalui Program Air Berkah, BI turut mendorong pengembangan usaha AMDK sesuai kebutuhan masing-masing pesantren. Pendampingan mencakup manajemen usaha, peningkatan kualitas SDM, pemasaran hingga optimalisasi kapasitas produksi.

 

Pendampingan terhadap Pondok Pesantren Annuqayah telah berlangsung sejak 2014. Selama lebih dari satu dekade, pesantren tersebut mengembangkan berbagai unit usaha, seperti pertanian, perikanan, AMDK, koperasi syariah, ritel, bakery, percetakan, klinik, tambak garam hingga perkebunan.

 

 

Berbagai unit usaha tersebut kini berkontribusi lebih dari 30 persen terhadap operasional pesantren.

 

Selain penguatan usaha, BI juga mendorong digitalisasi transaksi melalui pembayaran nontunai, pencatatan keuangan digital, pengelolaan persediaan serta integrasi data antarunit usaha.

 

Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan transparansi sekaligus efisiensi pengelolaan bisnis pesantren.

 

Ke depan, BI berharap Pondok Pesantren Annuqayah dapat menjadi model pengembangan ekosistem ekonomi pesantren di Jawa Timur dan pusat pembelajaran bagi pesantren lainnya.

 

Pengembangan tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem bisnis pesantren yang lebih terintegrasi, profesional, berdaya saing, serta memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Madura dan Jawa Timur. (ivan)