Pesantren Amanatul Ummah Dorong Pacet Jadi Miniatur Indonesia Maju

bumi pesantren | 19 Agustus 2026 18:50

Pesantren Amanatul Ummah Dorong Pacet Jadi Miniatur Indonesia Maju
Ketua Umum Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) sekaligus Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim memaparkan materi saat menjadi pembicara utama dalam dialog publik di Aula Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN), Surabaya, Jawa Timur. (dok antara)

MOJOKERTO, PustakaJC.co – Pondok Pesantren Amanatul Ummah mendorong Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, menjadi miniatur Indonesia yang maju, adil, dan makmur melalui program pembangunan terpadu dalam satu tahun.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim mengatakan, gagasan tersebut diarahkan sebagai percontohan nasional dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Dilansir dari antaranews.com, Rabu, (19/8/2026).

 

“Sebagai langkah nyata, wilayah Pacet hendak kita jadikan percontohan nasional dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur,” kata KH Asep di Surabaya, Rabu, (19/8/2026).

 

 

Menurut dia, upaya tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah berjuang dan mengorbankan jiwa raga untuk kemerdekaan Indonesia.

 

Ia menilai perjuangan para pahlawan perlu dilanjutkan dengan mewujudkan cita-cita kemerdekaan melalui pembangunan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

 

“Lebih dari sekadar mendoakan para pahlawan, kita harus berupaya mewujudkan cita-cita kemerdekaan mereka, yaitu terwujudnya Indonesia yang maju, adil, dan makmur,” ujarnya.

 

 

KH Asep yang juga Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) mengatakan pesantren memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mendukung pembangunan.

 

Ponpes Amanatul Ummah, kata dia, berupaya melahirkan empat pilar sumber daya manusia, yakni ulama dan ilmuwan besar yang menjadi penerang masyarakat sekaligus referensi bagi birokrat, pemimpin yang berorientasi kepada kepentingan rakyat, pengusaha atau konglomerat yang dermawan, serta profesional berkualitas dan bertanggung jawab.

 

Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Diperlukan sumber daya manusia yang memiliki ilmu, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan integritas.

 

Dalam pengembangan Pacet, KH Asep menargetkan perubahan nyata dapat dirasakan masyarakat dalam waktu satu tahun.

 

Salah satu program yang disiapkan yakni memastikan seluruh rumah warga memenuhi standar kelayakan melalui program bedah rumah.

 

 

Di bidang kesehatan, seluruh warga yang sakit ditargetkan dapat mengakses layanan rumah sakit. Khusus masyarakat miskin, kepala desa diminta membantu pengurusan BPJS Kesehatan dengan iuran yang ditanggung pemerintah.

 

“Seluruh rakyat yang sakit harus bisa berobat ke rumah sakit. Bagi warga miskin, kepala desa wajib mengurus BPJS Kesehatan yang ditanggung oleh pemerintah,” katanya.

 

Pesantren Amanatul Ummah juga memberikan perhatian terhadap sektor pendidikan. Salah satunya melalui sekolah gratis Hikmatul Amanah yang dikelola dengan menerapkan sistem pendidikan Amanatul Ummah.

 

Sekolah tersebut diharapkan dapat memberikan akses pendidikan berkualitas kepada masyarakat Pacet hingga jenjang perguruan tinggi.

 

“Seluruh masyarakat Pacet harus bisa bersekolah di sekolah yang menjanjikan dan mampu mengantarkan mereka hingga perguruan tinggi,” ujarnya.

 

 

Selain pendidikan dan kesehatan, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat juga menjadi perhatian. Masyarakat diupayakan tidak mengalami kekurangan pangan serta memiliki pekerjaan dan penghasilan yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.

 

KH Asep berharap program tersebut tidak berhenti di wilayah Pacet. Apabila target dapat tercapai, model pembangunan itu diharapkan bisa diterapkan di wilayah lain.

 

“Kalau program ini berhasil di Pacet, dampaknya akan merambat ke seluruh Kabupaten Mojokerto, hingga akhirnya membawa Jawa Timur menjadi provinsi yang maju, adil, dan makmur,” katanya.

 

KH Asep juga mengingatkan pentingnya menjaga semangat perjuangan kemerdekaan. Ia mencontohkan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya sebagai salah satu simbol keberanian rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.

 

Menurut dia, semangat perjuangan tersebut harus diterjemahkan dalam bentuk pengabdian dan kerja nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

Melalui keterlibatan pesantren dalam pembangunan masyarakat, KH Asep berharap Pacet dapat menjadi contoh bahwa cita-cita Indonesia yang maju, adil, dan makmur dapat diwujudkan melalui program konkret yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. (ivan)