Tiga Wadzifah Kiai Pesantren Menurut Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari

bumi pesantren | 03 Agustus 2026 07:27

Tiga Wadzifah Kiai Pesantren Menurut Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari
Ketum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren. (dok nuonline)

CIREBON, PustakaJC.co – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menjelaskan tiga wadzifah atau tugas utama kiai pesantren sebagaimana termaktub dalam Muqaddimah Qanun Asasi karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Ketiga tugas tersebut menjadi fondasi bagi kiai dalam menjaga tradisi keilmuan, membina spiritualitas, sekaligus mengasuh umat.

 

Penjelasan itu disampaikan Gus Yahya saat memberikan sambutan pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren di halaman Masjid Agung Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu, (1/8/2026).

 

Menurut Gus Yahya, tugas pertama seorang kiai adalah menjalankan fungsi keilmuan. Ketika Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari mengajak para ulama Ahlussunah wal Jamaah bergabung dalam Nahdlatul Ulama, ajakan tersebut didasarkan pada pentingnya penguasaan ilmu yang bersumber dari khazanah keislaman klasik. Dilansir dari nu.or.id, Senin, (3/8/2026).

 

Ia menegaskan bahwa pemahaman terhadap ajaran Ahlussunah wal Jamaah dan mazhab empat tidak mungkin diperoleh tanpa proses belajar yang mendalam melalui tradisi pesantren. Ilmu tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui karya para ulama sejak masa sahabat, tabiin, tabiut tabiin hingga para kiai di Indonesia.

 

“Tidak mungkin memahami Ahlussunah wal Jamaah dan mazhab empat tanpa ilmu pengetahuan yang kita kaji di pesantren,” ujar Gus Yahya.