Faishal menyebut Muhammadiyah pernah melalui proses panjang untuk menyatukan pengelolaan aset organisasi.
Menurutnya, proses tersebut berlangsung bertahun-tahun dan dilakukan di berbagai daerah.
“Bisa, proses itu dilakukan,” katanya.
Faishal kemudian kembali pada persoalan utama yang menurutnya penting bagi LPTNU saat ini. Ia ingin pekerjaan LPTNU tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Pekerjaan kita itu jangan hanya silaturahmi, foto-foto, selesai. Tapi harus ada dampaknya di kampus-kampus,” tegasnya.
Menurutnya, keberadaan LPTNU harus bisa dirasakan oleh perguruan tinggi NU. Misalnya dengan membantu kampus yang membutuhkan penguatan dosen, membangun jejaring, maupun menghubungkan perguruan tinggi satu dengan lainnya.
Ia juga menyebut sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah di Malang, Yogyakarta, dan Garut sebagai contoh bahwa ketika sebuah lembaga memiliki mahasiswa dan sistem pembiayaan yang berjalan, pengembangan kampus dapat dilakukan secara berkelanjutan.