Dari Posko Jombang, Sekjen LPT PBNU Bicara Kampus NU agar Tak Berjalan Sendiri

bumi pesantren | 29 Agustus 2026 13:00

Dari Posko Jombang, Sekjen LPT PBNU Bicara Kampus NU agar Tak Berjalan Sendiri
Suasana perbincangan di Posko LPTNU PCNU Jombang, dalam rangka Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang, Sabtu, (29/8/2026). (foto ivan)

JOMBANG, PustakaJC.co – Teduhnya pepohonan jati terasa di Posko Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso Peterongan Jombang, Sabtu, (29/8/2026). Di tengah ramainya rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35.

 

LPTNU PCNU Jombang bersama Redaksi PustakaJC.co menghadirkan Faishal Aminuddin, Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPT-PBNU) masa khidmat 2023-2027 sebagai narasumber utama.

 

Obrolan yang berlangsung cukup panjang itu membawa banyak cerita dari pengalaman Faishal selama mengurus perguruan tinggi NU. Ia bercerita tentang pertemuannya dengan para rektor LPTNU dari berbagai daerah hingga persoalan yang pernah ia temui ketika membantu menyelesaikan berbagai dinamika di lingkungan kampus NU.

 

Faishal mengatakan, pada masa awal dirinya ikut mengurus pendidikan tinggi NU, banyak waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan persoalan di sejumlah perguruan tinggi.

 

“Dua tahun pertama itu mengurusi konflik,” kata Faishal, saat menghadiri undangan podcast LPT PCNU Jombang, kolaborasi bersama media online PustakaJC.co, Sabtu, (29/8/2026).

 

Ia kemudian bercerita mengenai sejumlah persoalan yang ditemuinya, mulai dari pergantian rektor hingga persoalan aset. Namun, dari berbagai pengalaman tersebut, ia justru melihat ada satu hal yang menurutnya menjadi kekuatan besar, yakni rasa memiliki.

 

“Rasa memilikinya besar. Semangatnya juga besar,” ujarnya.

 

 

 

Cerita Faishal kemudian berlanjut pada pengalamannya ketika diminta membantu mengurus bidang pendidikan tinggi. Ia pernah terlibat dalam berbagai proses penyelesaian persoalan perguruan tinggi NU di sejumlah daerah.

 

Salah satunya ketika ia harus turun langsung dalam persoalan kepengurusan perguruan tinggi di Gorontalo.

 

Faishal menceritakan bagaimana dirinya bersama pihak terkait datang ke sejumlah daerah, termasuk Malang, Surabaya, hingga Jakarta untuk mencari jalan keluar.

 

Pada akhirnya, menurut dia, persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan keputusan bahwa pihak-pihak yang berselisih sama-sama turun dan kemudian dilakukan pergantian.

 

“Kalau tidak begitu, tidak selesai,” tuturnya.

 

 

Dari pengalaman itu, Faishal kemudian melihat pentingnya organisasi memiliki mekanisme yang jelas dalam mengelola perguruan tinggi.

 

Ia juga berbicara mengenai hubungan antara NU, yayasan dan aset perguruan tinggi. Menurutnya, sejarah berdirinya sejumlah kampus NU memang tidak selalu sama.

 

Ada perguruan tinggi yang sejak awal dibangun melalui yayasan karena pada masa tertentu belum memungkinkan didirikan secara langsung oleh perkumpulan.

 

Dalam perjalanannya, menurut Faishal, kemudian muncul gagasan untuk menyatukan kembali pengelolaan aset yang memang berkaitan dengan NU.

 

“PBNU sudah melakukan langkah itu. Sudah dengan baik-baik,” katanya.

 

 

 

Faishal Aminuddin, Sekretaris LPT-PBNU(kiri), dengan Solihan Arif Redaktur Pelaksana PustakaJC.co (tengah) dan Intan Permata Ayu Direktur PustakaJC Multi Media (kanan) di Posko LPTNU PCNU Jombang.

 

Faishal menyebut upaya tersebut antara lain dilakukan dengan mendatangi sejumlah perguruan tinggi dan yayasan untuk membicarakan pengelolaan kelembagaan maupun aset.

 

Ia mencontohkan proses yang dilakukan terhadap salah satu perguruan tinggi di Ponorogo. Menurutnya, sudah ada pembicaraan untuk menyerahkan yayasan kepada perkumpulan, bahkan telah disiapkan proses melalui notaris.

 

Namun, proses tersebut menurut Faishal membutuhkan waktu karena tidak langsung selesai.

 

“Sudah sebulan, dua bulan, tiga bulan, tidak selesai,” ujarnya.

 

Bagi Faishal, pembenahan tersebut bukan semata-mata mengenai aset. Ia melihat persoalan yang lebih besar adalah bagaimana perguruan tinggi NU dapat memiliki tata kelola yang baik dan bergerak dalam satu ekosistem.

 

Dalam perbincangan itu, ia juga membandingkan pengalaman NU dengan Muhammadiyah dalam mengelola aset dan perguruan tinggi.

 

 

 

Faishal menyebut Muhammadiyah pernah melalui proses panjang untuk menyatukan pengelolaan aset organisasi.

 

Menurutnya, proses tersebut berlangsung bertahun-tahun dan dilakukan di berbagai daerah.

 

“Bisa, proses itu dilakukan,” katanya.

 

Faishal kemudian kembali pada persoalan utama yang menurutnya penting bagi LPTNU saat ini. Ia ingin pekerjaan LPTNU tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

 

“Pekerjaan kita itu jangan hanya silaturahmi, foto-foto, selesai. Tapi harus ada dampaknya di kampus-kampus,” tegasnya.

 

Menurutnya, keberadaan LPTNU harus bisa dirasakan oleh perguruan tinggi NU. Misalnya dengan membantu kampus yang membutuhkan penguatan dosen, membangun jejaring, maupun menghubungkan perguruan tinggi satu dengan lainnya.

 

Ia juga menyebut sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah di Malang, Yogyakarta, dan Garut sebagai contoh bahwa ketika sebuah lembaga memiliki mahasiswa dan sistem pembiayaan yang berjalan, pengembangan kampus dapat dilakukan secara berkelanjutan.

 

Dari sana, Faishal kembali menekankan pentingnya rasa memiliki.

 

Menurutnya, persoalan perguruan tinggi NU tidak cukup diselesaikan oleh satu pihak. Diperlukan ekosistem yang terhubung sehingga ketika ada bantuan atau peluang kerja sama, kampus-kampus dapat saling mendukung.

 

“Kalau ada bantuan datang, kalau tidak ada, jalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

 

Bagi Faishal, pengelolaan pendidikan tinggi NU membutuhkan kerja bersama. LPTNU, perguruan tinggi, yayasan dan berbagai pihak yang terkait perlu memiliki komunikasi yang baik agar potensi yang ada dapat berkembang.

 

Hampir dua tahun mengurus LPT, ia mengaku masih menemukan banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

 

“Ngurusi LPT sudah hampir dua tahun. Aduh, sendiri-sendiri,” katanya.

 

 

 

Obrolan di bawah rindangnya pohon jati Posko LPTNU PCNU Jombang itu pun terus mengalir. Di tengah suasana Muktamar NU ke-35, Faishal membawa cerita dari berbagai daerah sekaligus menekankan satu hal yang berulang kali muncul dalam perbincangan: perguruan tinggi NU memiliki potensi besar, tetapi perlu dibangun dalam ekosistem yang saling terhubung.

 

Perbincangan tersebut menjadi salah satu bagian dari suasana Muktamar NU ke-35 di Jombang, ketika berbagai gagasan tentang masa depan NU dibicarakan dari banyak tempat, termasuk dari sebuah posko yang teduh di antara pepohonan jati. (ivan)