Tiga Nilai yang Ditekankan Unisma
Saat ditanya mengenai hal mendasar yang dapat menjadi pembelajaran bagi PTNU lainnya, Prof. Junaidi menyampaikan tiga nilai yang diwariskan para pendiri Unisma, yakni kejujuran, keikhlasan dan kerukunan.
Menurutnya, kerukunan menjadi salah satu kunci penting dalam membangun institusi pendidikan tinggi.
“Kalau sudah tidak rukun itu sudah pasti enggak akan maju,” katanya.
Ia menilai kebersamaan harus menjadi kekuatan bersama. Ketika ada kelebihan, dapat dinikmati bersama, sementara ketika ada kekurangan, juga dihadapi bersama.
“Dengan kebersamaan kita akan, kalau ada lebih yang kita nikmati bersama atau kalau ada kurang yang kita rasakan bersama. Insyaallah kita bisa maju,” lanjutnya.
Menuju PTNU yang Mendunia
Prof. Junaidi menegaskan bahwa perjalanan menuju PTNU yang mendunia membutuhkan proses panjang. Ukurannya tidak hanya pemeringkatan dunia, tetapi juga dapat dilihat dari semakin banyaknya dosen asing yang terlibat dalam pembelajaran, penelitian kolaboratif internasional, publikasi internasional, serta aktivitas pengabdian lintas negara.
Ia menyebut internasionalisasi PTNU saat ini telah mulai bergerak, meski sebagian besar masih berada dalam lingkup ASEAN.
Kemampuan bahasa internasional juga menjadi salah satu tantangan yang perlu diperkuat. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari agenda pengembangan PTNU.
Bagi Prof. Junaidi, membangun PTNU yang mendunia bukan pekerjaan satu perguruan tinggi. Dibutuhkan kerja bersama, pemetaan keunggulan, kolaborasi riset, penguatan sumber daya manusia dan perubahan cara pandang dari kompetisi menuju kemitraan.
Podcast yang berlangsung dalam suasana sore di Posko LPTNU PCNU Jombang tersebut menjadi ruang dialog untuk membicarakan arah besar pendidikan tinggi NU. Di tengah teduhnya pepohonan jati dan rangkaian Muktamar Ke-35 NU, gagasan tentang PTNU yang tumbuh bersama menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Prof. Junaidi. (ivan)