Prof Junaidi Dorong PTNU Jatim Berhenti Bersaing dan Mulai Bersinergi

bumi pesantren | 29 Agustus 2026 19:07

Prof Junaidi Dorong PTNU Jatim Berhenti Bersaing dan Mulai Bersinergi
Prof. Drs. H. Junaidi Mistar, M.Pd Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) (kiri) bersama Solihan Arif, Redaktur Pelaksana PustakaJC.co (tengah), dan Intan Permata Ayu, Direktur PustakaJC Multi Media (kanan), saat podcast di Posko LPTNU PCNU Jombang. (foto ivan)

JOMBANG, PustakaJC.co – Sore yang teduh di Posko Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang menjadi latar perbincangan mengenai masa depan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU). Di bawah rindangnya pohon-pohon jati, podcast kolaborasi LPT PCNU Jombang dan PustakaJC.co membahas gagasan PTNU yang mendunia.

 

Podcast tersebut menghadirkan Prof. Junaidi Mistar, Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) periode 2024-2028 sekaligus Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LPT PWNU) Jawa Timur.

 

Diskusi dipandu Solihan Arif, Redaktur Pelaksana PustakaJC.co bersama Intan Buana Permata Ayu, Direktur PustakaJC Multi Media. Perbincangan berlangsung di tengah rangkaian Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang, Sabtu (29/8/2026).

 

Mengangkat tema “PTNU yang Mendunia dan Masa Depan LPTNU”, podcast tersebut membedah berbagai tantangan dan peluang PTNU untuk berkembang tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga mampu memberikan kontribusi di tingkat global.

 

Prof. Junaidi mengatakan, cita-cita PTNU mendunia tidak semata-mata dimaknai dengan mengejar peringkat universitas dunia. Lebih dari itu, internasionalisasi harus dibangun melalui peningkatan kualitas pendidikan, riset, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga internasional.

 

“Kita memang berharap PTNU itu tidak hanya memberikan kemaslahatan kepada warga Nahdliyin saja, tetapi juga kepada bangsa Indonesia bahkan pada dunia,” ujar Prof. Junaidi.

 

 

 

Menurutnya, upaya menuju PTNU yang mendunia harus dimulai dengan membangun rekognisi internasional. Salah satunya melalui kolaborasi dosen, penelitian internasional, publikasi ilmiah, hingga kegiatan pengabdian masyarakat lintas negara.

 

Ia mencontohkan kerja sama yang telah dilakukan sejumlah PTNU dengan perguruan tinggi di luar negeri. LPT PWNU Jawa Timur juga mendorong dosen dan mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan internasional, termasuk pengabdian masyarakat di Malaysia dan Thailand.

 

“Pengakuan internasional itu tentu berangkat dari kinerja tridarma, yaitu pendidikan, hasil-hasil riset, kemudian aktivitas pengabdian pada masyarakat baik oleh dosen maupun mahasiswa,” jelasnya.

 

PTNU Jangan Saling Anggap Kompetitor

 

Salah satu persoalan yang menjadi sorotan Prof. Junaidi adalah pola hubungan antarkampus NU. Menurutnya, besarnya potensi PTNU di Jawa Timur akan sulit berkembang maksimal apabila masing-masing perguruan tinggi masih melihat kampus NU lainnya sebagai pesaing.

 

“Yang kita inginkan itu adalah PTNU secara keseluruhan besar. Bukan hanya yang ini besar, ini besar, ini di sana,” katanya.

 

Karena itu, ia mendorong perubahan cara pandang antarkampus. PTNU lain, kata dia, seharusnya dipandang sebagai partner untuk membangun kekuatan bersama.

 

“Kita jangan berpandang PTNU yang lain itu sebagai kompetitor. Tetapi kita harus mulai belajar menganggap bahwa mereka itu adalah partner kita,” tegas Prof. Junaidi.

 

Ia mengakui perubahan cara pandang tersebut tidak mudah diterapkan. Dalam praktiknya, persaingan antarkampus masih dapat terjadi karena banyak program studi yang memiliki bidang keilmuan serupa.

 

Menurutnya, salah satu jalan keluar adalah memperkuat karakteristik dan keunggulan masing-masing perguruan tinggi. Dengan demikian, setiap kampus memiliki bidang unggulan yang berbeda dan dapat saling melengkapi.

 

“Kalau kita bisa memetakan keunggulannya yang berbeda, maka akan mengurangi tensi kompetisi itu,” ujarnya.

 

 

LPTNU Diharapkan Jadi Penghubung

 

Prof. Junaidi menyebut LPTNU memiliki peran penting untuk mendorong PTNU agar dapat tumbuh bersama. Salah satu gagasan yang menurutnya perlu dikembangkan adalah pemetaan keunggulan masing-masing perguruan tinggi NU.

 

Dengan pemetaan tersebut, masyarakat nantinya dapat memiliki lebih banyak pilihan berdasarkan karakter dan keunggulan kampus.

 

“Kalau ingin yang ini maka kuliahnya yang di sana. Sesama PTNU, sehingga enggak perlu rebutan,” tuturnya.

 

Namun, ia juga mengakui posisi LPTNU tidak mudah karena kemandirian masing-masing perguruan tinggi cukup tinggi. Bahkan, pendirian program studi baru pada masing-masing kampus tidak selalu melibatkan LPTNU.

 

Karena itu, penguatan koordinasi menjadi tantangan tersendiri dalam membangun ekosistem PTNU yang lebih terintegrasi.

 

 

Unisma Jadi Salah Satu Referensi

 

Dalam podcast tersebut, Prof. Junaidi juga berbagi pengalaman Unisma dalam proses menuju internasionalisasi. Ia mengatakan, pengalaman Unisma sebisa mungkin dimanfaatkan untuk memberikan manfaat kepada perguruan tinggi NU lainnya.

 

Salah satunya melalui kegiatan peningkatan kapasitas riset. Ketika Unisma mengadakan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan riset dosen, peserta tidak hanya berasal dari Unisma, tetapi juga dibuka untuk PTNU lainnya di Jawa Timur.

 

“Kami merasa ikut bertanggung jawab untuk membina perguruan tinggi NU yang lain supaya kami tidak hanya kamilah yang maju, tapi teman-teman PTNU yang lain juga,” ungkapnya.

 

Selain Unisma, ia menyebut Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida), dan Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro (Unugiri) sebagai sejumlah kampus yang dapat menjadi referensi perkembangan PTNU di Jawa Timur.

 

Kolaborasi juga telah dilakukan dalam berbagai bidang, termasuk pendampingan pengembangan jurnal ilmiah. Melalui asosiasi jurnal PTNU, perguruan tinggi didorong meningkatkan kualitas jurnal dari peringkat Sinta menuju jenjang yang lebih tinggi hingga terindeks Scopus.

 

 

Tiga Nilai yang Ditekankan Unisma

 

Saat ditanya mengenai hal mendasar yang dapat menjadi pembelajaran bagi PTNU lainnya, Prof. Junaidi menyampaikan tiga nilai yang diwariskan para pendiri Unisma, yakni kejujuran, keikhlasan dan kerukunan.

 

Menurutnya, kerukunan menjadi salah satu kunci penting dalam membangun institusi pendidikan tinggi.

 

“Kalau sudah tidak rukun itu sudah pasti enggak akan maju,” katanya.

 

Ia menilai kebersamaan harus menjadi kekuatan bersama. Ketika ada kelebihan, dapat dinikmati bersama, sementara ketika ada kekurangan, juga dihadapi bersama.

 

“Dengan kebersamaan kita akan, kalau ada lebih yang kita nikmati bersama atau kalau ada kurang yang kita rasakan bersama. Insyaallah kita bisa maju,” lanjutnya.

 

Menuju PTNU yang Mendunia

 

Prof. Junaidi menegaskan bahwa perjalanan menuju PTNU yang mendunia membutuhkan proses panjang. Ukurannya tidak hanya pemeringkatan dunia, tetapi juga dapat dilihat dari semakin banyaknya dosen asing yang terlibat dalam pembelajaran, penelitian kolaboratif internasional, publikasi internasional, serta aktivitas pengabdian lintas negara.

 

Ia menyebut internasionalisasi PTNU saat ini telah mulai bergerak, meski sebagian besar masih berada dalam lingkup ASEAN.

 

Kemampuan bahasa internasional juga menjadi salah satu tantangan yang perlu diperkuat. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari agenda pengembangan PTNU.

 

Bagi Prof. Junaidi, membangun PTNU yang mendunia bukan pekerjaan satu perguruan tinggi. Dibutuhkan kerja bersama, pemetaan keunggulan, kolaborasi riset, penguatan sumber daya manusia dan perubahan cara pandang dari kompetisi menuju kemitraan.

 

Podcast yang berlangsung dalam suasana sore di Posko LPTNU PCNU Jombang tersebut menjadi ruang dialog untuk membicarakan arah besar pendidikan tinggi NU. Di tengah teduhnya pepohonan jati dan rangkaian Muktamar Ke-35 NU, gagasan tentang PTNU yang tumbuh bersama menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Prof. Junaidi. (ivan)