"Mereka tidak selalu menunggu ruang yang diberikan oleh organisasi, negara, atau institusi keagamaan. Para Bu Nyai justru semakin banyak menciptakan ruangnya sendiri," ujar Rahayu.
Melalui jaringan-jaringan ini, pengetahuan keagamaan yang tadinya beredar terbatas di lingkup pesantren atau pengajian kini diintegrasikan dengan berbagai isu krusial masyarakat modern. Persoalan pengasuhan anak (parenting), kesehatan reproduksi, pendidikan, ekonomi, hingga hak-hak perempuan kini menjadi porsi utama yang dibahas dan diolah menjadi program aksi sosial berbasis komunitas.
Infrastruktur Sosial Baru untuk Masa Depan NU
Kehadiran organisasi independen berbasis Bu Nyai ini dinilai menghadirkan infrastruktur sosial baru bagi NU. Kendati bergerak di luar struktur birokrasi formal NU, para aktor di dalamnya tetap hidup, berakar, dan bernapas dalam tradisi ke-NU-an.