GRESIK, PustakaJC.co - Ribuan santri di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, memeringati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 dengan unjuk kebolehan pementasan seni drama kolosal pada Rabu, (21/10/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghidupkan kembali rekaman sejarah keteguhan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, dalam melawan penjajahan demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pementasan drama kolosal yang dibawakan oleh santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin ini menjadi salah satu daya tarik utama masyarakat setempat. Menariknya, para santri menyajikan pertunjukan tersebut secara interaktif dan dinamis menggunakan gabungan tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Jepang. Dilansir dari gresiksatu.com, Jumat, (23/10/2026).
Dalam adegan yang disajikan, digambarkan keteguhan sikap KH Hasyim Asy’ari beserta para santri saat berhadapan dengan tekanan tentara penjajah. Suasana haru dan dramatis memuncak ketika sosok KH Hasyim Asy’ari digambarkan ditangkap oleh tentara Belanda, diiringi tekanan keras terhadap para santri yang dibalas aksi perlawanan gigih demi mempertahankan kehormatan bangsa.
Seni drama ini merupakan salah satu dari delapan kreasi pertunjukan yang melibatkan sekitar 400 santri, disusul dengan suguhan tari zafin yang dibawakan penari berpakaian putih dan bertopi merah tinggi.
Rangkaian perayaan HSN 2026 yang diinisiasi Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Suci ini mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”. Kegiatan diawali dengan pawai kirab sepanjang satu kilometer dari Gedung NU Ranting Suci menuju Balai Desa Suci.
Tidak kurang dari 2.500 peserta memadati rute kirab, terdiri dari badan otonom NU seperti Ansor, Banser, IPNU, IPPNU, Muslimat NU, Fatayat NU, jajaran dewan guru, hingga santri putra Pondok Pesantren Mambaus Sholihin. Antusiasme warga terlihat memenuhi sepanjang jalur yang dilalui rombongan.
Putra Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Agus H. Muhammad Ma’ruf, menegaskan pentingnya momentum ini sebagai wahana edukasi sejarah dan penanaman nilai nasionalisme kepada para santri.
“Ini adalah bukti bahwa kita merupakan penerus pendahulu kita. Kalau bukan kita, siapa lagi? Saya berharap para santri ini bisa menjadi generasi emas, pecinta negeri, dan menjunjung tinggi martabat Indonesia,” ujar Agus Ma’ruf di sela-sela kegiatan.
Ia menambahkan, rasa cinta tanah air tidak hanya dibentuk melalui pembelajaran formal di dalam bilik pesantren, tetapi juga perlu dipupuk melalui ekspresi kebudayaan yang menginternalisasi nilai-nilai perjuangan para ulama.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PRNU Suci sekaligus anggota DPRD Kabupaten Gresik, Khoirul Huda, mengapresiasi penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional oleh pemerintah. Menurutnya, peringatan ini menjadi pengingat sejarah atas sumbangsih nyata kalangan pesantren bagi kedaulatan NKRI.
“Melalui peringatan ini, kita diingatkan kembali bahwa santri memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan. Semangat perjuangan para ulama dan santri ini harus terus diwariskan kepada generasi muda,” tegas Khoirul Huda.
Melalui perpaduan kirab dan pertunjukan seni sejarah ini, PRNU Suci berharap nilai-nilai kejuangan ulama tetap mengakar kuat pada diri generasi muda sekaligus memperkokoh rasa cinta tanah air. (ivan)