SITUBONDO, PustakaJC.co – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengingatkan kembali peran penting Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, dalam perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama (NU), khususnya terkait keputusan kembali ke Khittah 1926.
Hal itu disampaikan Gus Kikin saat menghadiri Haul Majemuk Masyayikh dan Keluarga Besar Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Rabu, (28/10/2026).
Menurut Gus Kikin, Pesantren Sukorejo menjadi salah satu tempat bersejarah bagi NU, terutama saat Muktamar NU ke-27 pada 8–19 Desember 1984. Muktamar tersebut menjadi momentum penting bagi NU untuk kembali menegaskan jati dirinya sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan setelah sebelumnya terlibat dalam politik praktis. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (29/10/2026).
“Ini merupakan titik balik sejarah bagi NU untuk kembali ke Khittah 1926, dan keluar dari politik praktis. Oleh karena itu, NU kembali berkhidmah untuk membina umat ini,” kata Gus Kikin.
Selain keputusan kembali ke Khittah 1926, Muktamar NU ke-27 juga menjadi momentum penerimaan Pancasila sebagai asas organisasi. Gus Kikin menilai keputusan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dan dasar negara dapat berjalan beriringan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kalau NU bertahan terus, tidak mau mengakui Pancasila niscaya Indonesia ini akan menjadi negara sekuler seperti Turki,” ujarnya.
Gus Kikin menjelaskan, penerimaan Pancasila juga berkaitan dengan semangat trilogi ukhuwah atau persaudaraan yang digagas KH Achmad Siddiq dari Jember. Prinsip tersebut menjadi landasan untuk membangun hubungan yang harmonis di tengah perbedaan latar belakang sosial maupun pandangan keagamaan.
Ia menegaskan, semangat persaudaraan tetap relevan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. Karena itu, Gus Kikin mengajak warga NU untuk terus membangun ukhuwah dan menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai pedoman dalam mencari solusi atas berbagai persoalan.
“Itulah maka kita harus mulai berpikir bagaimana kita membangun ukhuwah dan mencari ridha Allah. Karena dengan ridha Allah semua hal akan bisa kita capai,” tuturnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, tersebut juga berharap Pesantren Sukorejo terus melahirkan pemikiran dan generasi santri yang mampu berkontribusi bagi umat serta bangsa.
Ia menilai, kiprah para ulama NU pada masa lalu perlu menjadi inspirasi bagi generasi muda pesantren untuk mengambil peran dalam kepemimpinan dan kehidupan kebangsaan di masa mendatang.
“Mudah-mudahan di Pondok yang sangat bersejarah bagi NU di tahun 1984 ini ke depannya muncul pemikiran-pemikiran, santri-santri yang akan menjadi tokoh di masa yang akan datang terutama di Indonesia,” harapnya.
Sebagai informasi, pembahasan mengenai penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal, hubungan Pancasila dan Islam, serta keputusan kembali ke Khittah 1926 telah dilakukan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU pada 1983 di Situbondo.
Hasil pembahasan tersebut kemudian diperkuat dalam Muktamar NU ke-27 pada 1984. Muktamar itu juga menetapkan KH Achmad Siddiq sebagai Rais Aam dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU.
Momentum tersebut menjadi bagian penting perjalanan NU dalam memperkuat peran keagamaan, sosial, dan kebangsaan tanpa terlibat langsung dalam politik praktis. (ivan)