Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, tersebut juga berharap Pesantren Sukorejo terus melahirkan pemikiran dan generasi santri yang mampu berkontribusi bagi umat serta bangsa.
Ia menilai, kiprah para ulama NU pada masa lalu perlu menjadi inspirasi bagi generasi muda pesantren untuk mengambil peran dalam kepemimpinan dan kehidupan kebangsaan di masa mendatang.
“Mudah-mudahan di Pondok yang sangat bersejarah bagi NU di tahun 1984 ini ke depannya muncul pemikiran-pemikiran, santri-santri yang akan menjadi tokoh di masa yang akan datang terutama di Indonesia,” harapnya.
Sebagai informasi, pembahasan mengenai penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal, hubungan Pancasila dan Islam, serta keputusan kembali ke Khittah 1926 telah dilakukan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU pada 1983 di Situbondo.
Hasil pembahasan tersebut kemudian diperkuat dalam Muktamar NU ke-27 pada 1984. Muktamar itu juga menetapkan KH Achmad Siddiq sebagai Rais Aam dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU.
Momentum tersebut menjadi bagian penting perjalanan NU dalam memperkuat peran keagamaan, sosial, dan kebangsaan tanpa terlibat langsung dalam politik praktis. (ivan)