Pembelajaran tidak hanya dilakukan di ruang akademik. Para peserta juga dijadwalkan mengunjungi Cirebon untuk berinteraksi langsung dengan ulama perempuan dan komunitas pesantren.
Salah satu lokasi pembelajaran lapangan adalah Pesantren Kebon Jambu. Di pesantren tersebut, peserta direncanakan menginap sekaligus mengikuti aktivitas pendidikan untuk memahami tradisi keilmuan Islam dari perspektif kehidupan sehari-hari.
Amelia menilai pengalaman langsung di lingkungan pesantren menjadi bagian penting dalam memahami hubungan antara teks keagamaan, tradisi, dan praktik sosial masyarakat.
“Memahami pengetahuan keagamaan membutuhkan perhatian pada teks dan tradisi, sekaligus melihat bagaimana teks tersebut ditafsirkan dan dipraktikkan di tengah komunitas. Karena itu, tinggal di pesantren dan belajar langsung dari masyarakat di sana menjadi bagian penting dari program ini agar melahirkan pemahaman mendalam serta kolaborasi keilmuan ke depan,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ali Munhanif, menyebut kolaborasi lintas lembaga dalam kegiatan ini dirancang untuk memperluas pertukaran gagasan mengenai peran perempuan di ruang publik keagamaan.
Menurutnya, peserta internasional dapat melihat secara langsung bagaimana masyarakat Muslim tradisional dan pesantren di Indonesia mempertahankan tradisi keilmuan klasik sekaligus mengembangkan pemahaman Islam yang berpijak pada kesetaraan akses dan keadilan sosial.
“Para peserta dari berbagai negara dapat melihat langsung bagaimana masyarakat Muslim tradisional dan pesantren di Indonesia merawat serta mengajarkan tradisi keilmuan klasik, sembari menjalankan komitmen yang kuat terhadap kesetaraan akses dan keadilan sosial dalam memahami Islam,” pungkas Ali.